"milik pemimpi hebat yang mempercayai langit sebagai tempat menggantungkan mimpi-mimpinya"
Jumat, 30 Mei 2025
Kun Fayakun (it's been a year)
something i got somewhere
Don’t fall in love with a writer. They will bury your embarrassing moments in them, they will carve your broken times in their hearts. They will spill ink all over your memories and throw them all onto blank pages. They will find beauty in every ugly situation that once happened in your life.
Don’t fall in love with a writer. They will dig you up from your hiding place, they will dig your soul out. They will strip down your walls, they will strip your heart and soul naked, and explore your darkest thoughts. They will stay in there and find ways to pen down the darkness. Then they will grab your hand and run. Run from all thoughts, run from everything that is holding you down. They will live in you and leave your soul all bare.
Don’t fall in love with a writer. They will take hold of your hopes and dreams, your successes and failures, your beauty and flaws, your perfections and imperfections. They will take all there is, and they will not return any of them back. They will turn everything about you, to spilled ink. They will turn you to songs, to stories, to poetry. And there is nothing you can do to stop them from doing so.
Don’t fall in love with a writer. They are complex beings. They are fucking insane. You will lose your mind, you will lose yourself if you try to understand what is roaming around in their heads, if you try to understand them entirely. Even writers don’t understand themselves at most times. So if you were to fall for a writer, be prepared to say goodbye to your sanity.
Don’t fall in love with a writer. They will not always think of you. They will not always dream of you. They will not always prioritize you. They will not always have a bouquet of flowers and countless of chocolate bars with them. Or should I say, they might not even have any flowers or chocolates for you. They might even choose to spend their Sunday afternoons on the typewriter with a cup of coffee than to cuddle with you in bed.
Don’t fall in love with a writer. When they start to love, they will love with their all. They will love so hard, so hard that it might suffocate you. You may think that you can handle it but on the contrary, you can’t. Things are different when it comes to writers. You think you can keep your head up but their love will pull you down and it will drown you. They will drown you in their ocean of love.
Don’t fall in love with a writer. You might not be able to turn back, to save yourself once you do. You may even remember them for the rest of your life, whether they are a part of it or not. You will not be able to remove them, to erase their words because it’s the only thing that remains permanent, that remains alive in this world. You will find pieces of yourself in between the letters, and they will haunt you for god knows how long.
Don’t fall in love with a writer. They will write about you. They will write and write and write about you. They will use you to ink their blank pages, but once they decide to stop writing about you, once they swear to not let you be the reason behind their spilled ink, you will no longer exist in their letters. And no matter what you do, you can never be a part of the ink on their paper no more.
Don’t fall in love with a writer. They tend to notice everything but will speak nothing of it. Why? Simply because, they know that words are meaningless unless written. And believe me when I say this, they know how things will be at the end of the day, be it a relationship or a friendship. So oftentimes, they will write about sadness more than happiness. If you plan to leave them, they will not beg for you to stay. They will not hold you back, but they will let you go no matter how much it hurts for them to do so. They will just find a secluded spot of theirs with a pen and some papers, and write and write and write. That’s the thing with writers; they just choose to bleed through their pen, their words.
Don’t fall in love with a writer. They will open you up. They will cut open every scar you have. They will expose every part of you. They will use everything that has to do with you as a writing material. They will love you from a distance. They will look at you in between the spilled ink and blank pages. They will paint down everything that hurts on empty sheets, and it will hurt you too, whether it is intended or not. They will make you bleed along with their words.
Don’t fall in love with a writer. Because I know how things will be. Because I am a writer.
So don’t fall in love with me.
—Lukas W.
Janji Yang Terbakar
Broken promises, the promises you don't want to deal with, the promises you'd rather not to have, the promises you have to make. Anything, actually, it's up to you as a writer to interpret the theme! Be creative as much as you like!
Tahukah kalian apa yang paling aku sukai? Menyeka air mata yang menetes dari sudut matanya dengan ibu jariku.
Soulscape is a 31 days online writing project. To join please contact to stardust-glitteryhoe or rainbowsmoke16
hello again
Senin, 09 Agustus 2021
thoughts
Jumat, 09 Juli 2021
Analisis Penyerangan KKB di Papua dan Kaitannya dengan Aspek Bela Negara
Selama pertengahan hingga
akhir Mei 2021, terjadi rentetan kejadian tak diharapkan di salah satu pulau
besar Indonesia. Penyerangan beruntun yang berujung baku tembak antara Kelompok
Kriminal Bersenjata (KKB) dengan TNI-Polri terus menerus terjadi di berbagai
kabupaten di Papua hingga memakan banyak korban jiwa. Selain mengincar apparat,
KKB di Papua juga melakukan pembakaran gedung sekolah. Diketahui ada sekitar
150 orang KKB militan di Papua, beberapa dari mereka menyerahkan diri dan menyatakan ikrar setia pada NKRI. Anggota
yang telah berikrar cinta ibu pertiwi diberikan pengamanan khusus dari
kepolisian, namun tetap ditindak sesuai dengan kesalahannya. Pihak kepolisian
berupaya melakukan pendekatan pada anggota KKB secara humanis dengan cara
memberikan pemahaman dan jaminan kepada pihak-pihak yang belum sejalan dengan
NKRI.
KKB Papua yang menyebut
dirinya sebagai Tentara Nasional Papua Barat – Organisasi Papua Merdeka
(TNPB-OPM) ini pun sedang dikaji apakah tergolong dalam Kelompok Separatis dan
Teroris (KST) karena yang kali ini diserang bukan hanya aparat, melainkan juga
masyarakat sipil. Akan tetapi, keputusan ini bisa jadi akan menyebabkan
masyarakat sipil Papua menjadi korban karena dilabeli teroris. Pemimpin Persatuan Gerakan Pembebasan Papua
Barat menyatakan bahwa pelabelan teroris ini tidak sesuai karena dia merasa
bahwa terorisme adalah penggunaan kekerasan terhadap masyarakat sipil untuk
mengintimidasi secara luas demi tujuan politik. Menurutnya, hal ini telah
dilakukan oleh militer Indonesia selama bertahun-tahun. Mereka mendesak
Indonesia untuk menarik kekuatan militernya dari bumi Papua. Menurut
pendapatnya, pasukan dan helikopter militer Indonesia hanya mendatangkan
ketakutan bagi perempuan dan anak-anak di perkampungan Papua.
Dalam salah satu
konferensi pers, Ketua MPR menerintahkan untuk menumpas habis KKB Papua tanpa
memedulikan urusan HAM. Hal ini memicu kontroversi dari berbagai kelompok
masyarakat karena pernyataan ini dianggap bisa mendorong peningkatan kekerasan
di Papua, serta hanya akan melanggengkan siklus kekerasan yang dapat
mengorbankan warga sipil dan aparat keamanan. Hak Asasi Manusia merupakan
kewajiban konstitusi yang seharusnya menjadi prioritas dalam setiap kebijakan
negara. Apabila dikesampingkan maka akan melawan hukum internasional dan juga
konstitusional.
Tindak kekerasan dan baku
tembak seperti ini bukan baru sekarang terjadi di Bumi Cendrawasih, melainkan sudah
terjadi sejak bertahun lalu hampir di seluruh penjuru Papua. Pada tahun 2018, Kapolri
pernah menyatakan dalam suatu pertemuan bahwa motif dan tujuan utama KKB Papua
ini adalah kesejahteraan. Menurut beliau, kekerasan semacam ini sudah cukup
banyak yang berhasil diredam, terutama di daerah-daerah yang sudah mulai naik
tingkat kesejahteraan dan kemakmurannya. Beberapa pengamat politik menilai
bahwa penyerangan ini bertujuan untuk menarik simpati dunia karena dukungan
negara-negara lain terhadap pemisahan Papua dari Indonesia. Mereka meminta
intervensi militer dari Pasukan Keamanan PBB serta mencari dukungan moril dan
materiil dari Uni Eropa, Afrika-Karibia-Negara Pasifik, dan semua anggota PBB
demi hak merdeka dan hak penentuan nasib sendiri untuk negara-negara yang
terjajah.
Masalah ini tidak akan pernah selesai jika kedua belah pihak (pemerintah Indonesia dan KKB Papua) tidak mau duduk bersama untuk membahas win-win solution untuk masing-masing pihak agar tidak ada yang merasa dirugikan dari keputusan yang dihasilkan. Menurut saya, kekerasan tidak akan pernah menjadi jalan yang bisa dibenarkan dalam mencapai perdamaian. Advokasi personal dan kelompok harus dilakukan secara berkala agar tercapai perdamaian dan kemakmuran di Bumi Cendrawasih. Perbincangan dan diskusi harus dilakukan di tanah Papua dalam kondisi yang tenang tanpa diawasi oleh militer supaya tidak ada keputusan yang diambil berdasarkan paksaan dari salah satu pihak. Saya percaya kedamaian dan kemakmuran dapat diwujudkan di tanah Papua tanpa harus memisahkan diri dari Nusantara.
Disusun untuk memenuhi Tugas 1 Agenda 1 Diklatsar CPNS Kabupaten Bangka
Golongan III Angkatan II Kelompok 4
RSUD DR. Eko Maulana Ali Belinyu
Coach : Dra. Enny Habibah, MMMinggu, 20 Juni 2021
Happy Father's Day
Jumat, 04 Desember 2020
Regret Always Comes Late
Rabu, 12 Agustus 2020
Jatuh vs Bangun
Jatuh cinta itu pilihan, bangun cinta itu komitmen.
Seperti yang pernah saya ceritakan dalam postingan saya sebelumnya, untuk jatuh satu orang pun cukup, tapi untuk membangun, minimal dua orang harus bekerja sama. Kenapa saya bilang dua orang? Karena sesungguhnya hubungan bukan hanya sekadar sang perempuan dengan lelakinya, tapi bagaimana mengikatkan tali cinta mereka pada kedua keluarga. Menjadikannya satu untuk menggenapkan bahtera demi mengarungi samudera.
Lalu mengapa saya menuliskan tentang ini?
Bukan karena saya ingin bersegera menikah, mungkin ingin, tapi belum sekarang. Saya menulis ini karena saya pegal melihat linimasa setiap media sosial yang saya miliki dipenuhi keluhan dan cacian anak-anak kecil yang mungkin belum tahu fungsi setumpuk rambut diatas kelopak matanya.
Kenapa harus alis?
Alis berada di sana sejak lahir, tidak hadir sebagai tanda seksual sekunder yang muncul setelah datang pubertas. Alis ada untuk melindungi kedua bola mata cantik kita dari tetesan keringat yang melulu turun dari pori-pori kepala. Alis tidak seperti bulu mata yang tepat melekat di kelopak. Alis menjaga jarak tepat untuk melindungi. Agar ia tak menjadi seperti bulu mata yang bisa menusuk-nusuk kornea saat tumbuh dengan posisi yang tidak tepat. Alis ada untuk melindungi dengan menjaga jarak ideal.
Lalu apa hubungannya dengan anak-anak itu?
Mereka yang mengoceh-ngoceh di dunia maya tentunya belum mengenal apa itu komitmen. Bahwa hati semestinya disimpan untuk satu yang akan mendampingi kita selamanya.
Kenapa saya bicara begini?
Karena saya juga pernah berada di posisi mereka. Hanya saja saya sedikit lebih tua saat pertama kali di sana. Dan setelah beberapa siklus berputar, entah siklus pendek atau panjang, saya sadar bahwa saya telah menyia-nyiakan waktu saya. Saya telah mengotakkan kehidupan saya dengan keberadaan seseorang yang belum sepatutnya masuk ke lingkaran itu. Saya pernah menjadi bodoh, atau mungkin sekarang masih begitu.
______________________________________________
Entah apa yang kupikirkan waktu itu ya. Tulisan ini awalnya kubuat sudah lama sekali, 9 Maret 2015. Wah, sudah lima tahun. Apalah yang ada dalam otak abege labil itu ya. Sok bijak kali omonganku. Tapi saat ini, aku sudah lebih dewasa. Sudah dua puluh lima tahun umurku. Sudah memiliki pengalaman yang lebih banyak lagi mengenai tema "Jatuh vs Bangun".
Sekarang aku semakin yakin untuk berkomitmen membangun cinta bersama dia yang hadir di waktu yang tepat. Dia yang namanya masih tanda tanya, yang akan mengajakku membangun dan menjadi dewasa bersama. Bertahun sudah menjalani hidup ini membuatku bisa menyeleksi mana yang ada untuk tinggal, mana yang hanya mau lewat. Di usia sekarang, prinsip "Halalkan atau tinggalkan" menjadi sangat penting untuk dipegang. Melihat prioritasnya, cara berpikirnya, menjadi faktor penting disamping ibadah dan akhlaknya. Karena menikah adalah janji untuk menghabiskan sisa umur bersama orang yang awalnya asing.
Semoga aku dipertemukan dengan kamu yang mau membangun rumah penuh kebahagiaan dan keberkahan, bersama.
anxiety loop
Jumat, 07 Agustus 2020
Chocolady
Selasa, 07 Juli 2020
I Am The Diamond
I won't budge an inch because I'm a rock.
Go ahead and beat me up.
I'm a solid rock.
Go ahead and lock me up in the darkness.
I'm a rock that shine alone.
I don't break, ash, nor decay.
I'm the diamond.
Sabtu, 06 Juni 2020
commitment
Kamis, 04 Juni 2020
Find some light in the darkness (uncensored-VER)
Senin, 06 Mei 2019
Paket dari Pak Sukab
Halo, Langit.
Sudah lama aku tidak bercerita.
Hari ini ada cerita menarik yang harus segera kusampaikan padamu. Sepulang dari rumah sakit tadi aku menerima kiriman paket berwarna cokelat dari Bapak Kosku. Bingunglah aku, kurasa sudah dua bulan lamanya aku tak pernah lagi belanja daring. Dan lagi, ada kepala kuda menyapaku di bagian depannya. Apakah kuda itu berkorban demi mengantarkan paket ini padaku? Hampir lima bulan lamanya sejak orang itu menulis surat yang terlampir didalamnya hingga akhirnya sampai kepadaku hari ini. Apakah mungkin? Tetapi mungkin tidak, terlalu drama.
Hari ini hari pertama Ramadhanku di pulau terpadat di Indonesia, kegiatanku sore tadi cukup padat, sehingga paket itu baru sempat kubuka setelah surya tenggelam, ketika biru bergurat jingga telah menjelma menjadi hitam. Teriring hujan.
Panjang perjalananku demi membuka kotak berbalut plastik itu. Kubuka pelan-pelan agar kertas pembungkus itu tidak robek, agar bisa kugunakan lagi untuk fungsi lain. Bermodalkan gunting kasa, aku meniti sela-sela selotip disekeliling kotak dengan teliti. Pelan-pelan. Setelah akhirnya terbuka, aku terkejut. Didalamnya terdapat kotak biru dengan plastik tembus pandang ditengahnya, membuatku berpandangan dengan perempuan berbaju putih yang sedang menganga. Memangku sebuah buku yang juga mengalihkan perhatianku.
Keterkejutanku belum berakhir disana ternyata. Aku mendengar bunyi gemerincing di dalam kotak biru itu. Kubuka lagi deretan selotip disekitarnya. Kuajak keluar perempuan menganga itu, kuangkat buku tadi dari pangkuannya. Lalu aku menemukan kotak cokelat kecil, sumber bunyi gemerincing tadi dan sebuah gulungan putih di sudut-sudut kotak. Ternyata bunyi itu datang dari pecahan lonceng angin. Sedih. Tempurung yang tampak seperti bola golf itu pecah berkeping-keping. Baiklah, akan ada agenda memperbaiki lonceng itu.
Benda terakhir yang kubuka adalah gulungan putih yang tampaknya terdiri dari beberapa lembar kertas. Seperti surat. Dan memang surat rupanya. Dari lelaki tua yang sepertinya sering kudengar namanya. Sukab, katanya. Lelaki ini mengaku pikun tetapi ingat dengan jelas isi surat yang pernah dikirimnya pada seorang perempuan. Katanya ia pernah mengerat senja, mengirimkannya pada perempuan itu. Hah. Ada-ada saja. Mana mungkin senja yang selama ini aku pandangi itu sudah dikeratnya? Kalau iya, seindah apa lagi senja itu sebenarnya? Hai Bapak Tua, tak usahlah kau banyak berlagak, hal itu tidak mungkin. Lalu ia bercerita tentang seorang pemuda yang ia tak tau namanya, padahal ia mengenang lekat nama perempuan yang dikiriminya surat berdekade lampau, dasar Tua Bangka pilih kasih.
Aku tak tahu pula siapa pemuda yang berkali-kali Pak Tua itu sebutkan dalam suratnya. Bolehkah aku memprediksi? Ah, tapi tak bolehlah aku terlalu banyak mengira-ngira. Biarlah kuterima saja dulu apa kata pemuda itu kepada Bapak itu. Aku masih menikmati senja, langit, angin, hujan, gunung, lautan, sendiri ataupun berdua. Belum banyak kurasakan perbedaan. Apakah karena jiwaku masih kanak-kanak? Aku kurang dewasa. Masih plin plan. Penuh keraguan. Padahal umurku sudah hampir seperapat abad. Malu rasanya. Namun memang beginilah aku sekarang. Tak tahu bagaimana nanti.
Tapi, ya, terima kasih banyak sekali kuhaturkan untuk si Bapak Tua. Isi surat darinya sedikit membuatku terharu. Akan kusimpan baik-baik perempuan menganga yang dia kirimkan untukku ini. Bolehlah kupanggil dia Jingga. Sudah lama aku tak bercerita dengan boneka, atau ponsel, atau benda-benda mati lainnya. Kenangan masa kecil penuh kesendirian. Puncak kepribadianku sebagai introvert mediator. Akan kucoba mengaktifkan lagi kreativitasku yang sempat redup. Dikelilingi jalan buntu.
Sekali lagi, terima kasih sudah mendengarkan celotehku tentang hadiah dari Pak Sukab, Langit.
Di bawah langit mendung, 6 Mei 2019.
Sabtu, 30 Maret 2019
Rindu
Aku rindu.
Rindu masa-masa penuh keingintahuan. Rindu hari-hari penuh pencarian. Rindu membaca, menulis, dan mendengarkan. Rindu belajar dan mempelajari hal-hal baru.
Kontemplasi dini hari ini berputar di masalah perkuliahan. Aku yang sudah lulus dan keluar dari kampus setahun lalu merasakan lagi rindunya masa polos tanpa beban. Masa-masa dimana aku bisa mencoba apa saja. Mempelajari apa saja. Berselancar di dunia maya tanpa memikirkan besok harus bekerja.
Sebagai seorang yang mudah tertarik akan sesuatu, berselancar di dunia maya merupakan kelemahanku. Aku akan terjerat di satu topik dan terus-terusan mencari tahu tentang hal itu sampai aku bosan atau muncul topik baru yang mengalihkan perhatianku. Aku adalah seorang penjelajah dan pengamat. Bukan tipe orang yang mampu benar-benar menjadi profesional, karena sikapku yang mudah teralihkan perhatiannya, sehingga aku cenderung lebih nyaman berada di lingkungan yang stabil.
Hari ini, menonton video-video perkuliahan Jerome Polin membuatku merindukan saat-saat perjuanganku untuk masuk kuliah. Teringat berkas Monbukagakusho yang sempat kucetak, kuperhatikan lamat-lamat, kucoba mengisi beberapa bagian, hingga berkali-kali memelototi gerbang Kantor Kedutaan Jepang di Thamrin setiap kali diantar omku melewati jalan itu, membayangkan aku akan menyelipkan seberkas amplop coklat di kotak suratnya. Hingga pada akhirnya aku menyerah, menyerah pada situasi tanpa mau mencoba lebih keras, aku berhenti memikirkan isi kolom esai dan motivation letter dalam formulir itu. Berkasnya kusimpan dalam map yang kemudian kukancing rapat dan tak pernah kubuka lagi.
Tapi mungkin takdir membawaku ke tempat lain yang juga sama sekali tak kusangka. Berkuliah di Kota Palembang tak pernah sedikit pun terbersit di pikiranku, namun aku menikmatinya. Karena aku mempelajari hal yang memang aku niatkan sejak lama. Seandainya aku melanjutkan Monbu, mungkin aku tidak akan menjadi dokter, karena aku akan mengambil course lain.
Yah, begitulah ke-random-an malam ini. Intinya. Intan kangen. Kangen belajar bahasa lagi. Kangen menulis lagi. Kangen sekolah lagi.
Selasa, 22 Januari 2019
Sadar
Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku berdiam di masjid. Merindukan masa-masa mengaji bersama Syifaa di kampus, datang dan duduk di masjid mencari ilmu sebentar lalu berdiam lama sampai berlalu beberapa waktu sholat.
Hari ini aku duduk, menunggu teman-temanku sholat. Di masjid ketika hujan. Mendengarkan lantunan bacaan sang Imam yang merdu dan tartil, maka nikmat Tuhan manakah yang aku dustakan?
Sesungguhnya seseorang memang seharusnya menyisihkan waktunya untuk masjid. Untuk duduk merenung, diam, lepas dari dunia meski sebentar. Benar pula perkataan adik kelasku yang kubaca beberapa hari lalu. Dengan berada di rumahNya kita akan sadar betapa jauhnya kita, betapa jarangnya kita menyapaNya yang selalu siap sedia mendengarkan setiap keluh kesah, setiap cerita. Alangkah kurang bersyukurnya diri kita selama ini.
Duduk sebentar di teras masjid membuatku sadar. Aku adalah hambaNya yang penuh khilaf. Sungguh. Manusia hanya satu titik dari sekian banyak makhluk yang diperintahkan untuk beribadah kepadaNya.
(Yogyakarta, Masjid UII, 22 Januari 2019, saat senja menghitam dan gerimis menderas.)
Senin, 03 Desember 2018
Bicara Senja
Bola api, apakah ia akan pergi?
Sudah waktunya ia pulang, tapi apakah ia hilang?
Lelahkah? Tidurkah?
Hari menghitam, akankah selalu kelam?
Tak terlihat bukan berarti ia beristirahat.
Ia hanya pindah mewarnai sisi sebelah
Selasa, 30 Oktober 2018
Pandangan Pertama
Satu dari sekian tamu. Awalnya ia tak begitu memperhatikan gadis itu. Dari belakang figurnya biasa saja, tidak ada hal yang menarik darinya. Lelaki itu hanya melihat sekilas dari samping dan mendengar suaranya mengucapkan satu kata samar-samar karena ragu. Lalu ia pergi. Gadis itu juga.
Penasaran, ia bertanya pada temannya, apakah gadis itu akan kembali? Siapa namanya? Memang, klise sekali kedengarannya.
Tak lama, gadis itu memang kembali menemui temannya. Dengan kemampuan lihat dan dengar yang cukup minimal, gadis itu tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Ketika ia bertanya dan temannya menjawab, ia bahkan tidak mendengar jelas jawabannya. Hanya sayup-sayup "Ia ingin berkenalan," yang ia dengar.
Kemudian gadis itu pergi bersama temannya tanpa bertanya lebih jauh. Mungkin malu, atau ragu dengan pendengarannya sendiri. Ketia ia sampai di gerbang dan menoleh ke kantor sebelah, lelaki tadi berdiri di depan gerbang seperti sedang berpatroli. Ia hanya mengangguk pelan sembari tersenyum sambil berlalu. Matanya yang rabun membuat gadis itu merasa diperhatikan dan ia semakin malu, khawatir terlalu percaya diri. Setelah gadis itu masuk ke mobil temannya dan berjalan pergi, lelaki tadi pun masuk lagi ke kantornya. Sungguh suatu kejadian yang menarik.
Mari kita lihat apa yang akan terjadi esok hari.
Minggu, 28 Oktober 2018
Dancing High Final Stage Euforia
Watching dancing high was such a roller coaster to my feelings. Too much power, courage, tears, love and regrets that they potrayed in spare of 8 episodes. I know it was just some fragments of their actual struggles. Those teens were so amazing that even an adult like me feel so weak against them. They have much bigger dream than mine and they really fought for it. Not just sitting and watching like some spectator.
Maybe I already passed half of my journey, but I really hope that I can show the world what it means to be me.