Bola api, apakah ia akan pergi?
Sudah waktunya ia pulang, tapi apakah ia hilang?
Lelahkah? Tidurkah?
Hari menghitam, akankah selalu kelam?
Tak terlihat bukan berarti ia beristirahat.
Ia hanya pindah mewarnai sisi sebelah
"milik pemimpi hebat yang mempercayai langit sebagai tempat menggantungkan mimpi-mimpinya"
Senin, 03 Desember 2018
Bicara Senja
Jumat, 28 Juli 2017
People Change in A Minute
People change in a minute
Now you wonder about your being
Next time you already turn path
People change in a minute
So do what you want to do now
Do not procrastinate
Cause the next you won't be the same you
People change in a minute
Believing and to be believed
Loving and to be loved
She needs an effort
She even needs a change
People change in a minute
Standing on your feet
Thinking by your brain
But do not ignore your heart
She has the same amount of responsibility
Of you and your doing
People change in a minute
Maybe I am next
-Madang, on one solemn morning-
290817
Rabu, 27 Januari 2016
Mencari dan Menemukan
Kita mencari untuk saling menemukan. Sayangnya mode pemain acak tak semudah itu kita kalahkan. Setiap hari bergulat melawan keberuntungan untuk menemukan kamu di antara ribuan orang lain yang juga berebutan ingin ditemukan. Mungkin cara kita sejak awal salah. Seharusnya kita berbagi identitas, menyatakan dengan jujur segala yang perlu diketahui dan menyembunyikan dengan manis hal-hal yang tak perlu. Tapi kita terlalu dungu untuk sekadar menyadari hal itu.
Di dalam tumpukan jerami akan lebih mudah menemukan jarum daripada sehelai jerami belang-belang. Kita terlalu sama. Kamu akan tenggelam dalam ramainya kawananku hingga aku tak akan bisa menemukanmu. Dan kamu akan terlalu sibuk mencariku, menyapa setiap jerami yang kau sentuh hingga lupa bagaimana bentukku.
Kamu. Cari. Aku.
Aku. Cari. Kamu.
Mungkin akan tiba waktu. Saat kita saling menemukan. Saat jalan kita bersimpangan. Saat akhirnya takdir lelah dan mengalah.
Kamis, 04 Juni 2015
Tanpa Judul (2)
Senyum itu masih di sana.
Aku lagi-lagi menghindari tatap matamu yang setajam elang.
Aku tak pernah mampu menerka isi kepalamu, apalagi hatimu. Kamu yang menyimpan semuanya untuk dirimu entah mengapa macam mencoba membagi.
Mungkin aku terlalu merasa, aku terlalu berharap. Pribadimu memang tak sama dengan orang biasanya. Kamu unik. Mungkin karena itu pula aku tertarik. Meski tutur bahasamu tak cantik, namun getar pita suaramu sanggup membuatku tergelitik.
Madang, 2 Mei 2015
(Ketika di luar hujan lebat)
Katanya Cinta
Pesakitan dan Kebangkitan
Minggu, 08 Maret 2015
KataBertaut 2 (edisi Kompilasi KAS_3G)
(09/03/15 - 00.20-00.28)
Temani daku merasakan desingan angin malam ini
Meski sungguhnya angin malam tak terasa di sini
Biarkan rembulan menjadi penghubung antara kita
Dan bintang-bintang menyaksikan kita dari tempatnya
Walau mimpi yang bawaku padamu
Hanya bertahan hingga mentari menyapa pagi
Memaksa kita memilih
Bangun dan mengejar mimpi atau kembali tidur dan melanjutkan mimpi
Karena mimpi tetaplah mimpi
Tapi sudahlah.. biarkan esok berbicara
Setelah aku mengusahakan semuanya, tinggal doa yang tersisa
Biarkan setiap detik membuat ceritanya sendiri
Hingga cerita hanya tinggal cerita
Dan perjuangan akan terasa hingga rasa itu tiada
(Cihuuuy, Muhammad Sanjaya memulai lalu Intan Chairrany, George Frazteo, dan Oddy Pratama melanjutkan syair bertaut ini. Dalam waktu 8 menit, 4 orang menyusun ini secara tidak berturut-turut. Tidak buruk.)
Selasa, 03 Maret 2015
Tanpa Judul
Aku di sini duduk memandangi detil wajahmu sambil menyiangi ragu yang melekat keras dalam hatiku. Kutancapkan pandanganku pada figurmu yang kaku. Lalu aku menunduk, sedikit banyak merangkum kita dalam benak.
Kau dan aku dua pribadi yang berkebalikan. Kita sama-sama menyembunyikan diri dalam topeng-topeng yang kita buat sendiri. Aku sang pecinta sepi memakai wajah ceria penuh gelak. Sementara kau si pendamba canda menyembunyikan sungging tawa dalam kerut-kerut dahi. Setiap hari kita berbohong pada cermin yang kita hadapi pagi-pagi.
Aku mendongak lagi untuk kemudian mendapatimu juga sedang melihat ke arahku. Ketika mata kita bertemu aku bertanya dalam hati, pada akhirnya apakah kita mampu membuka kedok ini? Menuturkan kisah yang sebelumnya kita simpan sendiri-sendiri. Untuk kemudian menyusun cerita masa depan yang kini masih berupa misteri.
Madang, 3 Maret 2015
(Di malam yang hening, setelah membaca beberapa tetes Hujan Matahari yang dituangkan Kurniawan Gunadi. Karena tetiba saja aku mengingatmu.)
Sabtu, 20 Desember 2014
Harusnya
harusnya kita diam saja
menikmati getar rasa dalam dada
harusnya kita diam saja
melirik dengan jarak sekian depa
harusnya kita diam saja
menyulam tawa dalam sepi yang ada
harusnya kita diam saja
bercerita lewat kata yang tak teraba mata
harusnya kita diam saja
biar hati kita saja yang berbicara
harusnya kita diam saja
agar doa-doa kita terpanjat penuh gelora
harusnya kita diam saja
agar perasaan kita tak ternoda bintik-bintik dosa
harusnya kita diam saja
supaya pada waktunya kita indah saling mencinta
(Ditulis saat hati terisi perasaan yang belum seharusnya dimiliki, padahal sesungguhnya ada Allah Sang Maha Membolak-balikkan Hati)
Sabtu, 29 November 2014
Thanks For .....
Thanks for being you
Thanks for being a beauty little girl
Thanks for loving him much more than i do
Thanks for giving him those presents that I can never afford
Thanks for joking so much with him
Thanks for telling me the truth about me
Thanks for making me know how much I ignored him for a long period
Thanks for taking him away from me
Thanks for making him love you this much
Thanks for giving me the best heartbreak ever
Thanks for making me realize the time to say goodbye and make a new hello
Thanks for being you
(For you, the one which wouldn't even like if your name going to be written in here, my second world)
Kamis, 27 November 2014
Tiba-Tiba
Ketika saya sedang berbaring mengenang cerita
Tiba-tiba guntur besar menggelegar
Lalu tiba-tiba angin kencang bertiup
Tanpa kusadari ternyata langit telah begitu kelam
Dan tiba-tiba hujan tumpah tanpa gerimis permisi
Tiba-tiba tercurah melimpah bernada riuh rendah
Memantul-mantul di atap
Mengetuk-ngetuk
Beberapa kali guruh susulan bergemuruh lagi
Setelahnya, jalan kecil itu sudah tergenang air coklat sematakaki
(ditulis di suatu senja kelam diiringi guyuran air langit yang mencekam)
Rabu, 26 November 2014
Mencumbu Bisu
Kami menyulam rasa tanpa suara
Lirikan mata dan sungging tipis menjelma kata
Suatu kali mencoba bercerita
Kali lain bahkan segan memandang muka
Penasaran tak terelakkan
Apakah dia rasa yang kurasakan
Apakah kami bahkan dalam satu pengertian
Entah kutemukan jawabnya kapan
Sekarang saja aku bahagia
Hanya melihat dia di ujung sana
Kuraba senyumnya dengan picingan mata
Merasa-rasa benarkah adanya
Mari biarkan kisah ini berjalan
Tanpa ucapan tanpa ikatan
Biar hati kita yang punya jawaban
Hingga tiba waktunya terungkapkan
(Ditulis di pagi dingin berselimut sisa hujan November)
Selasa, 25 November 2014
KataBertaut
Medan terjal berbatu
Medan licin berlumpur
Lembah yg membekukan aliran darah
Nafas yg menggumpal putih
Mie instan yg menghangatkan
Embun yang menyambut di pagi hari
Tanaman panjang umur yg menyapa dgn hijau raganya
Patahan ranting yang menyangga raga lelah bantu melangkah
Oh, ternyata ragaku pun meronta, inginkan seteguk air yg berasal dri mata air di shelter dua
Tubuh dataran rendah ini mulai megap, menggapai oksigen yang terasa kian pengap
Ditambah sepasang kaki manja yg sudah merengek, seakan jiwa sudah ingin berpisah dgn raga
Namun semua terbayar lunas ketika lempeng bertanda puncak itu tampak
Sontak langsung ku meraung, melepaskan semua beban yg ada
Kepala terdongak menatap langit yang seakan kian dekat
Oh Tuhan, kenapa baru sekarang aku sadar kalau langitmu sungguh tiada bernoda?
Kenapa begitu terlambat kusadari betapa kecilnya diriku di mata-Mu?
Ah sudahlah, tiada guna meratapi penyesalan itu. Aku sdh terlanjur terpukau dgn keindahan lain, sebuah nelangsa dgn warna biru di tengahnya
Betapa keindahan dunia itu merupakan anugerah-Mu, dan mataku yang mampu menyaksikannya ini adalah karunia-Mu
P.S: Entah bisa digolongkan puisi entah bukan, tulisan ini saya (baris genap) buat bergantian bersama Ihsan Rasyid Yuldi (baris ganjil) dengan inspirasi foto saya (nomor dua dari kanan) bersama kawan-kawan di tengah pendakian Gunung Dempo, Pagaralam, Januari 2013 silam yang ditemani hujan dan tanah basah.
Rabu, 05 November 2014
Surat Untuk Bumi
Selamat pagi, Bumi.
Subuh tadi aku disapa Debu, yang menggandeng Angin. Kau tahu foto? Gambar yang merekam kenyataan di masa lalu.
Sebelumnya Angin menunjukkan padaku bagian kecil foto itu, membuatku tak bisa menerka apa yang menjadi latar belakang. Entah kenapa aku merasa dibodohi ketika aku tahu akulah yang sebenarnya bodoh. Angin menjelma topan yang memporakporandakan pandanganku akanmu. Setelahnya, aku menyusun kepingan dusta yang ia serakkan diatasmu.
Aku tak menyangka serpih-serpih kenyataan menjadi mengerikan ketika kita tahu monumen apa yang menebarkan serpihan itu. Bangunan besar yang hanya kulihat kerikilnya saja. Aku tersenyum. Benar katanya bangunan itu seindah mawar, yang durinya menusukku tiap coba menyentuh.
Bumi, untuk apa dia menutupinya jika saat itu ia merengkuh Debu, aku tak akan peduli. Ketika ditutup lalu aku menyingkap tabir itu sendiri, kenyataan yang kuperoleh menusuk lebih tajam, lebih dalam.
Bumi, dalam diamku organ dalam dada kiriku berdenyut kencang. Aku bisa merasakan degupannya tanpa perlu menyentuh. Napasku jadi satu-satu.
Bumi, aku lelah menggapai Angin. Ia melulu berlalu dihadapanku tanpa menoleh, bercakap dengan Debu membentuk kabut putih yang makin mengaburkan pandanganku. Aku Langit yang harusnya bisa menyaksikan semua dari atas kini tak berdaya oleh kabut yang mereka ciptakan.
Bumi, bisakah kau melihatku? Karena pandanganku terhalang masa lalu. Mungkin kau bisa karena kamulah sang netral yang menikmati fenomena di atasmu.
Bumi, sambangi aku, sapa aku dengan uap asin lautanmu. Supaya aku bisa menggumpalkan awan jadi gelap dan menjelma rintik gerimis. Lalu guyuran hujan yang membasuh kabut itu dalam semalam. Agar esoknya aku pun bisa memandangimu dengan tersenyum lagi. Agar aku membiaskan biru yang cantik lagi. Agar aku bisa menikmati cokelatnya daratan, hijaunya hutan, birunya lautan, dan riuhnya perkotaan. Agar aku lupa kenapa mataku sempat terkaburkan.
Bumi, segera datangi aku, aku rindu.
Dari Langit
Jumat, 01 Agustus 2014
Kaget
Satu satu kenyataan mengejutkan
Mimpi mimpi terujar keluar
Apa apa yang kamu mau kita mau
Aku masih belajar mengejar
Hati dan Mati
Menanti hati bukan pekerjaan yang menyenangkan, tapi setidaknya lebih ringan dari menanti mati
Menunggu rindu pun tak seberat menunggu tandu
Maka biarlah cinta hidup tanpa beban agar kau tak menderita
Minggu, 01 Juni 2014
Aku Ingin Tinggal di Yogyakarta
Rabu, 27 Februari 2013
KITA (lagi)
sembunyikan jasad di balik gumpalan awan
deru mesin beroda silih berganti melintasi badan jalan
lampu-lampu jalan bersinar redup
sepuluh pemuda merajut cerita baru untuk hidup mereka
pepohonan menemani mereka dalam diam
menyikapi riuh rendah nada lelucon ringan terlontar
Tuhan, peliharalah persahabatan mereka
biarkan mereka menjalani hidup bersama
dalam kasih sampai nanti