Tampilkan postingan dengan label reportase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label reportase. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Juli 2021

Analisis Penyerangan KKB di Papua dan Kaitannya dengan Aspek Bela Negara

 

Selama pertengahan hingga akhir Mei 2021, terjadi rentetan kejadian tak diharapkan di salah satu pulau besar Indonesia. Penyerangan beruntun yang berujung baku tembak antara Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dengan TNI-Polri terus menerus terjadi di berbagai kabupaten di Papua hingga memakan banyak korban jiwa. Selain mengincar apparat, KKB di Papua juga melakukan pembakaran gedung sekolah. Diketahui ada sekitar 150 orang KKB militan di Papua, beberapa dari mereka menyerahkan diri  dan menyatakan ikrar setia pada NKRI. Anggota yang telah berikrar cinta ibu pertiwi diberikan pengamanan khusus dari kepolisian, namun tetap ditindak sesuai dengan kesalahannya. Pihak kepolisian berupaya melakukan pendekatan pada anggota KKB secara humanis dengan cara memberikan pemahaman dan jaminan kepada pihak-pihak yang belum sejalan dengan NKRI.

KKB Papua yang menyebut dirinya sebagai Tentara Nasional Papua Barat – Organisasi Papua Merdeka (TNPB-OPM) ini pun sedang dikaji apakah tergolong dalam Kelompok Separatis dan Teroris (KST) karena yang kali ini diserang bukan hanya aparat, melainkan juga masyarakat sipil. Akan tetapi, keputusan ini bisa jadi akan menyebabkan masyarakat sipil Papua menjadi korban karena dilabeli teroris.  Pemimpin Persatuan Gerakan Pembebasan Papua Barat menyatakan bahwa pelabelan teroris ini tidak sesuai karena dia merasa bahwa terorisme adalah penggunaan kekerasan terhadap masyarakat sipil untuk mengintimidasi secara luas demi tujuan politik. Menurutnya, hal ini telah dilakukan oleh militer Indonesia selama bertahun-tahun. Mereka mendesak Indonesia untuk menarik kekuatan militernya dari bumi Papua. Menurut pendapatnya, pasukan dan helikopter militer Indonesia hanya mendatangkan ketakutan bagi perempuan dan anak-anak di perkampungan Papua.

Dalam salah satu konferensi pers, Ketua MPR menerintahkan untuk menumpas habis KKB Papua tanpa memedulikan urusan HAM. Hal ini memicu kontroversi dari berbagai kelompok masyarakat karena pernyataan ini dianggap bisa mendorong peningkatan kekerasan di Papua, serta hanya akan melanggengkan siklus kekerasan yang dapat mengorbankan warga sipil dan aparat keamanan. Hak Asasi Manusia merupakan kewajiban konstitusi yang seharusnya menjadi prioritas dalam setiap kebijakan negara. Apabila dikesampingkan maka akan melawan hukum internasional dan juga konstitusional.

Tindak kekerasan dan baku tembak seperti ini bukan baru sekarang terjadi di Bumi Cendrawasih, melainkan sudah terjadi sejak bertahun lalu hampir di seluruh penjuru Papua. Pada tahun 2018, Kapolri pernah menyatakan dalam suatu pertemuan bahwa motif dan tujuan utama KKB Papua ini adalah kesejahteraan. Menurut beliau, kekerasan semacam ini sudah cukup banyak yang berhasil diredam, terutama di daerah-daerah yang sudah mulai naik tingkat kesejahteraan dan kemakmurannya. Beberapa pengamat politik menilai bahwa penyerangan ini bertujuan untuk menarik simpati dunia karena dukungan negara-negara lain terhadap pemisahan Papua dari Indonesia. Mereka meminta intervensi militer dari Pasukan Keamanan PBB serta mencari dukungan moril dan materiil dari Uni Eropa, Afrika-Karibia-Negara Pasifik, dan semua anggota PBB demi hak merdeka dan hak penentuan nasib sendiri untuk negara-negara yang terjajah.

Masalah ini tidak akan pernah selesai jika kedua belah pihak (pemerintah Indonesia dan KKB Papua) tidak mau duduk bersama untuk membahas win-win solution untuk masing-masing pihak agar tidak ada yang merasa dirugikan dari keputusan yang dihasilkan. Menurut saya, kekerasan tidak akan pernah menjadi jalan yang bisa dibenarkan dalam mencapai perdamaian. Advokasi personal dan kelompok harus dilakukan secara berkala agar tercapai perdamaian dan kemakmuran di Bumi Cendrawasih. Perbincangan dan diskusi harus dilakukan di tanah Papua dalam kondisi yang tenang tanpa diawasi oleh militer supaya tidak ada keputusan yang diambil berdasarkan paksaan dari salah satu pihak. Saya percaya kedamaian dan kemakmuran dapat diwujudkan di tanah Papua tanpa harus memisahkan diri dari Nusantara.


Disusun untuk memenuhi Tugas 1 Agenda 1 Diklatsar CPNS Kabupaten Bangka 

Golongan III Angkatan II Kelompok 4

 

 dr. Intan Chairrany

RSUD DR. Eko Maulana Ali Belinyu

Coach : Dra. Enny Habibah, MM

Selasa, 17 Februari 2015

Lomba Menulis Artikel Hari Gizi Nasional 2015 (oleh MCA-Indonesia)

Sampaikanlah Kebaikan Walau Hanya Satu Kata

Oleh: Intan Chairrany
(Pendidikan Dokter, FK Unsri 2012)

“Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”
-HR. Thabrani dan Daruquthni-

Bunyi hadist diatas tentunya sudah tak asing lagi di telinga masyarakat, baik yang muslim maupun non-muslim. Pernyataan bahwa manusia paling bermanfaat adalah manusia terbaik selalu digaung-gaungkan oleh setiap agama, setiap organisasi, setiap perkumpulan masyarakat. Lalu apa lagi yang masih ditunggu untuk mulai berkontribusi? Ada banyak aspek yang dapat difungsikan untuk menjadi bermanfaat, salah satu cara termudah adalah dengan berbagi. Berbagi kasih dengan berbagi pengetahuan, berbagi pengetahuan dengan menyampaikan.

Kader-kader Posyandu Anyelir tampak sibuk melayani para ibu yang membawa anaknya untuk mengikuti pemeriksaan bulanan yang diadakan di RW 01 Kelurahan 20 Ilir D1 (14/02).  Kegiatan Posyandu yang rutin dilakukan setiap bulan ini selalu menjadi magnet bagi ibu hamil, ibu dengan balita, dan beberapa lansia. Khozanah, Ketua Kader Posyandu Anyelir mengungkapkan bahwa jadwal pelaksanaan Posyandu tiap bulan telah diatur oleh Puskesmas. Namun pada pelaksanaannya tetap menyesuaikan dengan waktu yang disepakati oleh para kader bersama pihak Puskesmas. Sosialisasi waktu pelaksanaan kegiatan Posyandu dilakukan oleh kader yang notabene warga daerah setempat melalui penyampaian dari mulut ke mulut.

Kegiatan Posyandu Anyelir kurang lebih sama dengan posyandu lainnya yang dibagi dalam 5 Langkah, yaitu Pendaftaran, Penimbangan, Pencatatan, Penyuluhan, dan Pelayanan Kesehatan yang semuanya dilayani oleh Kader Posyandu. Setiap kali pemeriksaan, ibu-ibu datang dengan tangan kosong. Mereka hanya membawa anaknya tanpa KMS karena ternyata KMS dan buku KIA dipegang oleh kader setelah pemeriksaan untuk mencegah kasus kehilangan. Beberapa ibu bahkan tidak tahu hasil pemeriksaan bayinya karena situasi yang ramai dan terburu-buru melangkah ke meja berikutnya. “Saya tidak ingat lagi hasil penimbangan tadi, karena saat anak saya diperiksa mejanya ramai sekali. Setelah itu, kertasnya langsung saya serahkan ke meja pencatatan,” ujar Oci, ibu berusia 23 tahun yang datang memeriksakan dua anaknya. Sebagian lainnya malah langsung pulang setelah melakukan penimbangan balitanya untuk menghadiri undangan hajatan, misalnya. Kadang penyebab ketidaksesuaian fakta yang diutarakan oleh Kader dan warga tidak lain adalah kurangnya sosialisasi kepada masyarakat. Mereka hanya tahu bahwa Posyandu ada untuk menimbang bayi, memberikan imunisasi dan suplemen, serta pengobatan dan makanan tambahan bagi bayi atau balita yang membutuhkan. Padahal sebenarnya fungsi Posyandu tidak hanya seperti itu.

Rendahnya tingkat komunikasi antara Kader Posyandu dengan masyarakat yang kurang tahu dan kurang peduli pengakibatkan prevalensi stunting yang cukup tinggi di Sumatera Selatan (36,7%). Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi (MCA-Indonesia, 2013). Keadaan ini dapat dimulai sejak janin masih berada di dalam kandungan dan mulai terlihat pada tahun-tahun pertama kehidupan. Pemerintah Indonesia sudah bergerak mencegah stunting dengan meluncurkan “Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan” yang lebih dikenal dengan 1000 HPK pada September 2012. Saat ini Idonesia masih berada di peringkat 5 ASEAN dengan prevalensi stunting sebesar 37,2%, bukan suatu angka yang membanggakan.

Angka kejadian stunting di Posyandu Anyelir cukup rendah karena bayi yang diduga mengalami stunting segera ditatalaksana oleh Kader Posyandu bekerjasama dengan Puskesmas Dempo. Namun di daerah-daerah tertentu yang ibu-ibunya kurang peduli dan kader posyandunya masa bodoh, usaha mengontrol kondisi gizi anak pada tahun pertama kehidupan menjadi sia-sia. Kegiatan Posyandu harus aktif dilaksanakan di setiap daerah, pengontrolan keadaan gizi anak secara rutin dapat mencegah terjadinya kekurangan gizi kronik yang tidak terlihat. Dengan dilakukan pemeriksaan tinggi dan berat badan serta lingkar kepala, Posyandu maupun Dinas Kesehatan dapat menatalaksana anak-anak yang pertumbuhannya kurang dengan cara pemberian asupan gizi yang lebih baik.

Kepedulian ibu dan masyarakat yang lebih mengerti sangat dibutuhkan dalam mengurangi prevalensi stunting di Indonesia menjadi di bawah 32% pada tahun 2015 seperti ditargetkan dalam Millenium Development Goals (MDGs). Sayangnya, ada banyak ibu yang kurang mengenal dan memahami fungsi meja Penyuluhan dalam setiap kali pelaksanaan Posyandu. Sejak KMS dan buku KIA tidak lagi dipegang ibu, dengan alasan sering hilang sedangkan proses cetak dan distribusi KMS tidak sebentar, hanya beberapa ibu yang melewati meja Penyuluhan. Padahal di sana ibu akan mendapatkan penjelasan dari kader mengenai kondisi anaknya saat ini dibandingkan dengan bulan sebelumnya dan memperoleh pengarahan tindak lanjut yang dapat dilakukan oleh ibu di rumah maupun yang dibantu oleh Dinas Kesehatan.

Kerjasama antara ibu, keluarga dan Kader Posyandu akan membuat Indonesia menjadi negara yang lebih  baik. Sosialisasi mengenai peran Posyandu dalam membantu ibu hamil dan menyusui dengan usia anak kurang dari 5 tahun sangat perlu dilakukan secara berkala agar para ibu mengerti pentingnya peran tiap langkah di Posyandu. Peran Kader Posyandu dalam meningkatkan pengetahuan ibu mengenai kesehatan anaknya sangat besar. Ibu yang telah menerima penjelasan akan mengerti bahwa pemeriksaan yang dilakukan sejak masih mengandung hingga anak berusia 2 tahun akan mengurangi risiko cacat lahir dan terhambatnya pertumbuhan. Selain itu, nutrisi yang cukup, sanitasi dan higiene yang terjaga, serta kepedulian keluarga akan mengembangkan kemampuan kognitif anak untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sabtu, 27 Desember 2014

Khitanan Massal Perdana

Kemarin (27/12) saya mendapatkan pengalaman pertama menghadiri sekaligus terlibat dalam Khitanan Massal. Kesempatan ini datang dari undangan Kak Agusdianto, senior SMA sekaligus di FK Unsri yang merupakan anggota BSMI yang diundang untuk membantu dalam kegiatan yang diadakan oleh YatimMandiri dan Pertamina di Lorong Perdamaian, Jalan M.P. Mangkunegara, Kenten.

Operator dalam khitanan ini adalah Kak Agus, Kak Engky, dan Kak Febi, mahasiswa post-co-ass yang masih menunggu waktu UKDI. Dan yang beruntung diajak menjadi asisten adalah Kak Taufan, Kak Dayat, Reska, Dinda, Yuli, dan saya sendiri. Sebenarnya kakak-kakak ini mengusahakan angkatan 2011 semua yang membantu, tapi sepertinya yang dihubungi banyak yang berhalangan sehingga jadi kami yang diajak, yah hitung-hitung sekaligus sebagai media pembelajaran bagi kami.

Meskipun di sini saya bukan menjadi Operator, alhamdulillah dalam waktu 4 jam tadi saya bisa mengetahui dasar-dasar teknik khitan (red: saya tidak bilang sirkumsisi karena kami memang tidak melakukan itu). Mulai dari teknik aseptik antiseptik, cek phimosis paraphimosis, anastesi blok dan subkutis, memasang klep jam 6 dan 12 sebelum menentukan batas glans, memotong preputium cara pancung, jahit pembuluh darah kecil, sampai jahitan 8, dan jam 6, 9, 12, 3. Selain itu saya juga menyaksikan cara memastikan jarak glans penis dan memasang klep di atasnya untuk mempercepat proses khitan tanpa sirkumsisi, serta cara merapikan kalau masih ada bagian yang belum terjahit dengan menambah pada jam 5 atau jam 7.

Luar biasa, pengalaman hari ini insyaallah akan selalu saya kenang. Beragam jenis pasien dan keluarganya membuat saya terbayang bagaimana nanti ketika saya turun ke daerah. Bagaimana hebohnya Gilang, pasien pertama kami yang menendang-nendang, menolak melihat, dan berteriak kesakitan sehingga merasa itu adalah salah saya karena seenaknya saja seorang amatir menginjeksikan anastesi subkutis lateralnya... Saat menangani Gilang, saya menjadi asisten 1 yang buta arah. Selain melakukan anastesi subkutis, saya hanya melakukan tindakan aseptik antiseptik, menyerahkan minor set ke Kak Agus.

Setelah Gilang, datanglah Rafi bersama kedua orang tuanya. Rafi sangat heboh meronta-ronta padahal di meja sebelahnya, Haikal (yang ditangani tim Kak Febi) diam saja bahkan tertawa-tawa ketika penisnya sedang dijahit. Kehebohan Rafi membuat dia batal dikhitan oleh tim kami, memberi kesempatan bagi orang tuanya untuk membujuk.

Selanjutnya meja operasi kami disejukkan oleh kalemnya Naban, pasien kedua dan yang paling tenang meski hanya ditemani ibunya. Bocah 9 tahun itu menyaksikan semua proses khitan tanpa menangis sedikit pun. Kali ini saya masih menjadi asisten 1, dan mulai melakukan teknik-teknik dasar. Anastesi blok, mulai dari pemilihan posisi (masih diarahkan oleh Kak Agus) hingga injeksi subkutis lateral kiri-kanan, aman. Saya juga membantu proses penjahitan, meski masih sering salah mengikat. Berkali-kali benang terlepas karena tidak tersimpul. Untungnya Naban sangat kooperatif sehingga saya bisa melaksanakan percobaan pertama saya dengan baik.

Namun sepertinya keberuntungan kami berhenti di Naban. Pasien ketiga kami, Marcel, agak sulit dibujuk. Sebenarnya anak ini sudah diantar ke meja kami ketika Rafi batal dikhitan, tapi rontaannya yang lebih sensasional membuat gilirannya ditunda. Ternyata dia jadi heboh begitu bukan hanya karena melihat teman-teman yang dikhitan sebelumnya menangis keras, tapi karena dia malu penisnya dilihat orang lain. Lucu ya, haha. Alhamdulillah akhirnya Marcel berhasil dikhitan, kali ini saya menjadi asisten 2 sehingga saya lebih menikmati interaksi bersama keluarganya. Saya juga menyaksikan betapa bersemangatnya Sang Ibu meyakinkan anak kelas 1 SD itu bahwa untuk jadi polisi harus disunat. Hehe.

Kiki, pasien terakhir yang saya tangani sebagai asisten 1, membuat saya hampir merasa menjadi operator. Sayangnya, setelah satu kali berhasil melakukan anastesi blok dengan lancar, pada kali ini sepertinya saya malah sudah memasukkan 0.1 cc larutan Lidocain kedalam pembuluh darah Kiki. Untung Kak Agus sadar dan meminta saya mengecek ulang dengan sedikit menyedot bagian yang saya tusuk, tampaklah cairan merah berdilusi dalam spuit 3 cc yg saya pegang. Saya ketakutan.. Melihat saya hampir blank, Kak Agus segera memberi instruksi untuk mencabut spuit pertama dan menggantinya dengan Lidocain baru. Dan alhamdulillah sebelumnya kami sudah memasukkan cukup banyak larutan tersebut dari ampul ke spuitnya sehingga tidak ada kepanikan yang berarti dalam kejadian ini.
Dibalik musibah selalu ada berkah, walaupun tadi pada percobaan pertama (Naban) saya sempat kesulitan dalam memasang simpul jahitan, alhamdulillah kali ini saya sudah mulai bisa merasakan 'feel' yang sering disebut-sebut oleh Sang Operator sekaligus Instruktur di tim kami, yaitu Kak Agusdianto. Dan alhamdulillah berhasil melakukan fase klep, pancung, hingga jahit pembuluh darah dan epitel di semua sisi dengan cukup baik. Tentu saja Kak Agus masih menetapkan batas glans sebelum diklep dan dipancung, memilihkan epitel dan posisi jahitan, juga menggantikan anastesi blok dan suntik lateral kanan.

Terimakasih banyak Kak, sudah mengajak saya turut serta dalam kegiatan bakti sosial ini. Pengalaman ini insyaallah akan terus saya kenang agar menjadi batu loncatan untuk menjadi lebih baik. Dan semoga adik-adik yang dikhitan hari ini tetap sehat tanpa ada komplikasi apapun. Aamiin..

Kamis, 27 November 2014

Tiba-Tiba

Ketika saya sedang berbaring mengenang cerita
Tiba-tiba guntur besar menggelegar
Lalu tiba-tiba angin kencang bertiup
Tanpa kusadari ternyata langit telah begitu kelam
Dan tiba-tiba hujan tumpah tanpa gerimis permisi
Tiba-tiba tercurah melimpah bernada riuh rendah
Memantul-mantul di atap
Mengetuk-ngetuk
Beberapa kali guruh susulan bergemuruh lagi
Setelahnya, jalan kecil itu sudah tergenang air coklat sematakaki

(ditulis di suatu senja kelam diiringi guyuran air langit yang mencekam)

Selasa, 25 November 2014

KataBertaut

Medan terjal berbatu
Medan licin berlumpur
Lembah yg membekukan aliran darah
Nafas yg menggumpal putih
Mie instan yg menghangatkan
Embun yang menyambut di pagi hari
Tanaman panjang umur yg menyapa dgn hijau raganya
Patahan ranting yang menyangga raga lelah bantu melangkah
Oh, ternyata ragaku pun meronta, inginkan seteguk air yg berasal dri mata air di shelter dua
Tubuh dataran rendah ini mulai megap, menggapai oksigen yang terasa kian pengap
Ditambah sepasang kaki manja yg sudah merengek, seakan jiwa sudah ingin berpisah dgn raga
Namun semua terbayar lunas ketika lempeng bertanda puncak itu tampak
Sontak langsung ku meraung, melepaskan semua beban yg ada
Kepala terdongak menatap langit yang seakan kian dekat
Oh Tuhan, kenapa baru sekarang aku sadar kalau langitmu sungguh tiada bernoda?
Kenapa begitu terlambat kusadari betapa kecilnya diriku di mata-Mu?
Ah sudahlah, tiada guna meratapi penyesalan itu. Aku sdh terlanjur terpukau dgn keindahan lain, sebuah nelangsa dgn warna biru di tengahnya
Betapa keindahan dunia itu merupakan anugerah-Mu, dan mataku yang mampu menyaksikannya ini adalah karunia-Mu

P.S: Entah bisa digolongkan puisi entah bukan, tulisan ini saya (baris genap) buat bergantian bersama Ihsan Rasyid Yuldi (baris ganjil) dengan inspirasi foto saya (nomor dua dari kanan) bersama kawan-kawan di tengah pendakian Gunung Dempo, Pagaralam, Januari 2013 silam yang ditemani hujan dan tanah basah.

Kamis, 22 Mei 2014

Membaca: Menjelajah Masa

Saya membaca, dan terus membaca untuk tahu bagaimana caranya menulis. Saya bukan lagi anak kecil yang hanya menulis apa yang didiktekan guru di depan kelas. Saya menulis hal-hal yang saya cari sendiri, saya bongkar sendiri, saya telusuri sendiri. Belakangan ini saya suka membaca karya-karya orang dewasa, penulis angkatan ayah saya. Saya mencoba mengembangkan pengetahuan, dari yang paling dekat hingga paling jauh dengan saya.

Barusan saya selesai membaca tulisan mengenai Joesoef Isak atau dikenal juga dengan sebutan Joesoef Merdeka karena eksistensi beliau di koran Merdeka masa itu. Berkat tulisan itu pula saya mengetahui lebih banyak mengenai BM Diah, wartawan senior yang sering saya dengar namanya. Tadi pula saya baru tahu ternyata beliau telah meninggal satu tahun setelah kelahiran saya di Bumi Indonesia ini. Beberapa hari lalu saya juga baru selesai membaca novel fiksi berbasis riset dengan setting waktu seabad lalu ketika Indonesia masih dalam genggaman pemerintah kolonial. Novel cinta yang sangat manis dituturkan Remy Sylado dalam Malaikat Lereng Tidar. Apik sekali.

Mengenal penulis tua berarti menjelajahi sejarah. Sudah jadi rahasia umum bahwa penulis menulis berdasarkan keadaan zaman ketika ia hidup dan berkembang. Gaya penulisan dan topik bahasannya sangat dipengaruhi perkembangan zaman. Penulis angkatan saya sekarang mungkin melebarkan sayapnya dalam tema cinta, hal yang sangat lekat dengan remaja, meski dulu cinta merupakan hal tabu dan menjadi bahasan di cerita denga tokoh berusia diatas duapuluh tahun. Saya mungkin bosan dengan cerita-cerita picisan yang terlalu sering berkumandang di sekitarku. Jengah, mungkin.


Jadi sekarang saja mau menjelajah lagi. Setelah lelah dengan masa kini, saya ingin pergi ke masa lalu. Masa ketika pers masih sulit bergerak, dililit tekanan pemerintah, digencet zaman.

Selasa, 29 April 2014

KEPEMIMPINAN ISLAM DAN INDONESIA

"Siapa yang benci kepada suatu (tindakan) pemimpinnya, maka hendaknya ia bersabar. Karena sesungguhnya tiada seorangpun dari manusia yang keluar sejengkal saja dari pemimpinnya kemudian ia mati dalam keadaan demikian melainkan ia mati dalam keadaan jahiliyah." (HR. Muslim) 
Ketika berbicara mengenai pemimpin dalam Islam, maka yang terlintas dalam benak adalah sosok Amirul Mu’minin yang mampu menaungi umatnya dengan segala hukum Islam. Bayangan pemerintahan di zaman Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam beserta para sahabat yang begitu memesona dengan segala pahit manisnya.
Sesungguhnya dalam Islam ada banyak sekali kegiatan yang diatur hanya dapat dilaksanakan berjama’ah. Dalam konsep jama’ah ini, ada seorang yang dipercaya sebagai imam, dapat pula diartikan pemimpin atau orang yang berada di depan (dari kata dasar amaama yang  dalam bahasa Arab berarti di depan) sedangkan yang lainnya menjadi ma’mum (orang yang dipimpin). Dengan kata lain, Islam mengharuskan umatnya untuk memilih seorang pemimpin (amir) dari mereka agar dapat menggabungkan perbedaan-perbedaan yang mereka miliki. Seorang amir patutnya adalah seseorang yang lebih baik dari ma’mum  baik agama maupun ilmunya, lebih banyak mengetahui, lebih mampu menyampaikan, serta lebih mampu mempengaruhi untuk tujuan kebaikan. Praktisnya, seorang amir dalam Islam adalah seseorang yang dengan sukarela diikuti oleh umatnya tanpa mereka berniat membelot tapi tetap memiliki hak dan kewajiban untuk menegur ketika amir mereka salah. Dalam sholat contohnya, ketika imam salah gerakan maka ma’mum yang dibelakangnya akan melafalkan “Subhanallah, subhanallah, subhanallah.” Imam yang sadar seharusnya akan langsung memperbaiki kesalahannya karena tujuan dalam Islam adalah melakukan yang tebaik untuk mendapatkan ridho Allah swt.
Sesungguhnya Al Qur-an adalah sumber dari segala ilmu yang diturunkan Allah sebagai rahmat bagi semesta alam. Apabila pemimpin di suatu negara yang rakyatnya diatur untuk menjadi monotheis meski dengan kepercayaan berbeda benar-benar menerapkan pemerintahan berbasis Qur-an maka seharusnya negara yang dipimpinnya akan berjalan menuju kebaikan. Lain halnya jika pemimpin itu sendiri yang salah menafsirkan lalu salah pula mengerjakannya, atau rakyat di negara itu yang menolak apa yang dibawa pemimpinnya seperti yang telah terjadi di beberapa negara Timur Tengah. Seorang pemimpin tentunya tidak dapat bergerak sendirian tanpa dukungan dari rakyatnya. Pemimpin ada untuk memimpin umatnya agar bergerak bersama mencapai tujuan negara, bukan untuk menjalankan sendiri programnya tanpa bantuan.
Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia. Negara yang dibangun oleh beragam suku, agama, dan ras. Bersatu padu dalam Bhineka Tunggal Ika sejak hampir 69 tahun silam. Negara yang disebut-sebut negara Islam namun tampak sekuler inilah tempat kita tinggal berdiam dan lalu beranak-pinak. Negara Islam satu-satunya yang masih bersikukuh mengikuti kompetisi putri kecantikan kelas dunia, negara Islam yang memiliki Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, negara Islam dengan tingkat korupsi yang masih sangat tinggi.
Negara kita tercinta ini memang belum menerapkan sistem pemerintahan Islam, mengingat bukan hanya kaum muslim yang mengisi kepulauan ini. Kepulauan besar kita merupakan negara yang menganut sistem pemerintahan demokrasi Pancasila yang sangat jelas tidak termasuk dalam hukum Islam, karena Islam mengajarkan sistem musyawarah mufakat dan pemerintahan berbasis khilafah. Hal ini membuat beberapa penganut Islam yang fanatik buta menganggap demokrasi sebagai sesuatu yang tidak bisa ditolerir sehingga mereka memilih untuk menjadi “golongan putih” setiap kali dilaksanakan pemilihan umum. Keputusan yang sangat tidak beralasan jika kita mempertimbangkan apa yang akan terjadi saat kita menyerahkan hak suara begitu saja tanpa peduli apa yang akan terjadi pada kertas suara kita. Pemilu Legislatif yang dilaksanakan 9 April silam masih dinodai oleh jejak golput. Seandainya memang orang-orang Islam yang seharusnya pintar ini tidak mau terlibat, mau jadi apa negara ini?
Saat ini sudah menjadi rahasia umum bahwa borok Indonesia hampir tidak dapat lagi disembunyikan. Beberapa orang hanya mencibir di belakang, berkomatkamit mencaci pemegang pemerintahan saat ini tanpa cukup peduli untuk sekadar datang ke bilik kecil mencoblos satu lambang partai. Bukankah ada banyak partai yang juga membawa nama Islam? Seperti kata pepatah, “Suatu kaum tidak akan berubah sampai kaum itu sendiri yang merubahnya.” Bagaimana Islam mau berkembang lagi di Nusantara kalau pegiat muslim sendiri terpecah-pecah dan terlalu malas untuk mencoba berubah? Padahal dengan berikhtiar, mungkin saja Allah akan membawa suara kita untuk dapat mengubah hasil yang pastinya sudah diprediksi bahkan sebelum Pemilu digelar.

Kepada para pemuda penerus bangsa: Tunjukkan eksistensimu, buktikan pada dunia bahwa keberadaanmu dapat membantu memperbaiki Indonesia. Kalianlah para calon pemimpin, maka pilihlah pula pemimpin yang setidaknya paling baik dari semua calon yang ada agar kalian dapat meneruskan perjuangannya kelak. 

opini ini telah dipublikasikan pada Buletin Galaxy BPPM Ibnu Sina FK Unsri Edisi April 2014

Kamis, 24 April 2014

Overview Pormafka Unsri 2014

Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya merupakan institusi yang membiarkan mahasiswanya bersosialisasi dengan berbagai macam cara. Mahasiswa kedokteran yang ada kalanya jenuh dengan kegiatan perkuliahan yang monoton diarahkan untuk menggunakan otak kanannya agar dapat berkreasi dalam rangkaian kegiatan Pekan Olahraga Mahasiswa FK (Pormafka) yang akan ditutup dengan Pentas Seni (Pensi). Kegiatan ini bukan sekadar pekan olahraga biasa, melainkan kegiatan yang menampakkan aura persaingan yang ketat antar kelas. Semuanya melakukan yang terbaik agar kelasnya dapat memenangkan Pormafka dan memboyong Piala Bergilir Dekan FK Unsri ke kelasnya.
Ada tujuh cabang olahraga yang dilombakan dalam Pormafka 2014, antara lain Futsal, Voli, Basket, Bulu Tangkis, Tenis Meja, Tenis Lapangan, dan Catur yang akan diikuti oleh mahasiswa jenjang Strata 1 dan Profesi, jadi kakak-kakak koas juga masih berpartisipasi, lho. Tidak seperti tahun lalu ketika masih ada venue yang menyediakan lapangan futsal, basket, dan voli sekaligus, tahun ini ketujuh cabang olahraga Pormafka diadakan di venue yang berbeda-beda. Futsal di Galaxy, Basket di IBA, Voli di lapangan FKIP Unsri Bukit, Bulu Tangkis di Padang Selasa, Tenis Lapangan di samping RSMH, dan Tenis Meja serta Catur di kampus FK Unsri Madang, dengan menghapus cabang olahraga Renang yang tahun lalu dilaksanakan di Lumban.
Pembukaan Pormafka 2014 yang diadakan oleh BEM KM FK Unsri di Lapangan Garuda Sriwijaya (09/03) berlangsung meriah dengan partisipasi semua kelas yang masih mengeyam pendidikan jenjang Strata 1. Semua kelas memberikan penampilan yel-yel dan persembahan serta mengirimkan utusan terbaik mereka dalam lomba Lari Estafet, Tarik Tambang Putra dan Putri. Bahkan Program Studi Ilmu Keperawatan (PSIK) yang tahun lalu kurang dapat berpartisipasi dikarenakan sesuatu dan lain hal, tahun ini berkontribusi maksimal dengan mengikuti seluruh agenda Pembukaan Pormafka 2014 dan berhasil menjadi Juara 2 Tarik Tambang Putri.
Pormafka sendiri merupakan salah satu agenda BEM KM FK Unsri yang juga melibatkan peserta Sekolah BEM untuk menjadi panitia dalam rangkaian kegiatan yang akan berlangsung selama hampir tiga bulan mulai dari 9 Maret 2014 dan ditutup dengan Pensi yang jika tidak ada hambatan akan digelar tanggal 24 Mei 2014 di Kampus FK Unsri Madang dengan tema yang masih dirahasiakan.
Ayo semua mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsri, PDU, PSKG, PSIK, PS Psikologi dari angkatan 2009-2013 berpartisipasi dalam Pormafka 2014. Go Healthy, Fight Sportively, Win The Medals! Salam Pormafka! (Intan Chairrany)


Versi asli dari tulisan yang telah dimuat di Buletin Medifka On Two Weeks (OTW) edisi gabungan 4 dan 5 halaman 17-18

Minggu, 20 April 2014

Cobaan Untuk Indonesia


Untuk kesekian kalinya dalam sejarah Indonesia, bencana alam kembali mengguncang negeri ini. Di puncak musim penghujan, DKI Jakarta, Bekasi, Tangerang, Karawang, Subang, Pati, Blitar dan beberapa kota lain di Indonesia dikepung banjir. Hal ini menyebabkan kegiatan masyarakat terhambat oleh air yang menggenangi jalanan dan rumah-rumah mereka. Bahkan ibukota negara kita tercinta, yang notabene sudah menjadi langganan banjir pun merasa bahwa banjir tahun ini jauh lebih deras, lebih tinggi, dan lebih menyebar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Di sisi lain, ujung atas Sulawesi dilanda banjir bandang yang dilaporkan telah menelan 19 jiwa dan 2.091 orang mengungsi (22/01). Tidak ada yang mampu memprediksi, ketika Allah berkata jadi, maka jadilah, "Kun, fayakuun".

Selain air, lempeng tektonik Indonesia juga terguncang. Di Karo, Sumatera Utara, Gunung Sinabung yang sebelumnya berstatus Gunung Kategori B atau tidak aktif, secara mendadak pada 27 Agustus 2010 bergolak dengan aktivitas magma yang signifikan dibawah lapisan bumi dan menjadikan Sinabung Gunung Kategori A (aktif). Kemudian dinyatakan berada dalam kondisi waspada oleh Pusat Vulkanologi dan Mitifasi Bencana Geologi (PVMBG), yang membuat masyarakat terpaksa harus meninggalkan tempat tinggal dan ladang mereka sejak September 2013.

Belum ada tanda berakhirnya erupsi Sinabung, 24 November 2013 hingga memasuki tahun baru merupakan masa-masa puncak erupsi, gunung ini dinyatakan berada pada level tertinggi. Peningkatan dan penurunan aktivitas gunung membuat hasil prediksi yang fluktuatif, sehingga tak ada yang bisa meramalkan kapan berakhirnya erupsi ini sementara Sinabung terus mngeluarkan awan panas dan abu vulkanik dari kawahnya. Bahkan beberapa hari lalu (07/02) untuk kesekian kalinya, gunung ini kembali mengeluarkan awan panas yang menyapu kaki gunung.

Indonesia terus menerus diguncang bencana. Apa maksud Allah dengan semua ini? Bagaimana kita hraus menyikapinya? Apakah benar pernyataan Ebiet G. Ade dalam "Berita Kepada Kawan", bahwa mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, atau bahwa alam mulai bosan bersahabat kepada kita? Lalu perlukah kita bertanya pada rumput yang bergoyang atau mulai mengetuk hati masing-masing yang mungkin telah jarang disapa. Menanyakan apa makna eksistensi kita di bumi-Nya yang telah Ia hamparkan dengan segala nikmat yang bisa kita akses sesukanya.

Mungkinkah kita manusia terlalu sombong untuk sekadar berterimakasih, bersyukur atas jutaan nikmat yang telah dikaruniakan Allah kepada kita selama kita menumpang di dunia yang fana ini. Dunia yang hanya dijejak sebentar, tempat bermain dan bersenda gurau semata. Hendaknya kita syukuri segala macam musibah yang terus menyapa, sebagai wujud kesadaran diri. Musibah dihadirkan Allah sebagai pengingat bagi yang lupa, untuk menghapus dosa-dosa, agar kita merasakan yang orang lain rasakan. Semoga kita semua dapat menjadi hamba-Nya yang bersyukur agar kehidupan kita yang sementara ini dapat bermanfaat di akhirat-Nya yang kekal. Aamiin.

Telah terpublikasi di Buletin Galaxy BPPM Ibnu Sina FK Unsri Edisi Februari.

Night Traveler

13/01/2014

Jadi night traveler itu menyenangkan, sekaligus menegangkan. Apalagi kalo kamu perempuan dan perginya sendirian. Orang tua kamu pasti nelpon tiap setengah jam atau mungkin tiap limabelas menit sekali terutama kamu tipe bocah ‘pelor’ yang nempel bentar aja molor. Wkwkwk. Cuma buat mastiin kamu ga tidur, supaya ga dicopet atau di’grepe-grepe’ orang ga dikenal. Karena saat itu kamu bisa aja duduk sama siapa aja yang ga kamu duga sebelumnya. Perempuan atau laki-laki, muda atau tua, atau bisa jadi kamu malah ketemu temen sekelas yang kebetulan naik kendaraan umum dengan tujuan yang sama pula denganmu. Kemudian kamu akan dipaksa memilih: ngobrol dan dapat temen baru yang bisa jadi pelindung di perjalanan atau diam aja dan mati kutu sepanjang perjalanan. Di sisi lain bisa aja malah orang di sebelahmu yang ngajak berinteraksi duluan. Lalu kamu harus membuat pilihan lagi: menyambut dan mengembangkan percakapan seolah-olah  kalian teman lama yang baru ketemu lagi atau pura-pura ga denger karena pake handfree sambil tetep pura-pura konsen baca buku. Hasil perjalananmu malam itu tergantung apa pilihanmu. Percaya atau tidak pada orang disebelahmu. Keputusan ada di tanganmu :)