"milik pemimpi hebat yang mempercayai langit sebagai tempat menggantungkan mimpi-mimpinya"
Jumat, 30 Mei 2025
Kun Fayakun (it's been a year)
Senin, 06 Mei 2019
Paket dari Pak Sukab
Halo, Langit.
Sudah lama aku tidak bercerita.
Hari ini ada cerita menarik yang harus segera kusampaikan padamu. Sepulang dari rumah sakit tadi aku menerima kiriman paket berwarna cokelat dari Bapak Kosku. Bingunglah aku, kurasa sudah dua bulan lamanya aku tak pernah lagi belanja daring. Dan lagi, ada kepala kuda menyapaku di bagian depannya. Apakah kuda itu berkorban demi mengantarkan paket ini padaku? Hampir lima bulan lamanya sejak orang itu menulis surat yang terlampir didalamnya hingga akhirnya sampai kepadaku hari ini. Apakah mungkin? Tetapi mungkin tidak, terlalu drama.
Hari ini hari pertama Ramadhanku di pulau terpadat di Indonesia, kegiatanku sore tadi cukup padat, sehingga paket itu baru sempat kubuka setelah surya tenggelam, ketika biru bergurat jingga telah menjelma menjadi hitam. Teriring hujan.
Panjang perjalananku demi membuka kotak berbalut plastik itu. Kubuka pelan-pelan agar kertas pembungkus itu tidak robek, agar bisa kugunakan lagi untuk fungsi lain. Bermodalkan gunting kasa, aku meniti sela-sela selotip disekeliling kotak dengan teliti. Pelan-pelan. Setelah akhirnya terbuka, aku terkejut. Didalamnya terdapat kotak biru dengan plastik tembus pandang ditengahnya, membuatku berpandangan dengan perempuan berbaju putih yang sedang menganga. Memangku sebuah buku yang juga mengalihkan perhatianku.
Keterkejutanku belum berakhir disana ternyata. Aku mendengar bunyi gemerincing di dalam kotak biru itu. Kubuka lagi deretan selotip disekitarnya. Kuajak keluar perempuan menganga itu, kuangkat buku tadi dari pangkuannya. Lalu aku menemukan kotak cokelat kecil, sumber bunyi gemerincing tadi dan sebuah gulungan putih di sudut-sudut kotak. Ternyata bunyi itu datang dari pecahan lonceng angin. Sedih. Tempurung yang tampak seperti bola golf itu pecah berkeping-keping. Baiklah, akan ada agenda memperbaiki lonceng itu.
Benda terakhir yang kubuka adalah gulungan putih yang tampaknya terdiri dari beberapa lembar kertas. Seperti surat. Dan memang surat rupanya. Dari lelaki tua yang sepertinya sering kudengar namanya. Sukab, katanya. Lelaki ini mengaku pikun tetapi ingat dengan jelas isi surat yang pernah dikirimnya pada seorang perempuan. Katanya ia pernah mengerat senja, mengirimkannya pada perempuan itu. Hah. Ada-ada saja. Mana mungkin senja yang selama ini aku pandangi itu sudah dikeratnya? Kalau iya, seindah apa lagi senja itu sebenarnya? Hai Bapak Tua, tak usahlah kau banyak berlagak, hal itu tidak mungkin. Lalu ia bercerita tentang seorang pemuda yang ia tak tau namanya, padahal ia mengenang lekat nama perempuan yang dikiriminya surat berdekade lampau, dasar Tua Bangka pilih kasih.
Aku tak tahu pula siapa pemuda yang berkali-kali Pak Tua itu sebutkan dalam suratnya. Bolehkah aku memprediksi? Ah, tapi tak bolehlah aku terlalu banyak mengira-ngira. Biarlah kuterima saja dulu apa kata pemuda itu kepada Bapak itu. Aku masih menikmati senja, langit, angin, hujan, gunung, lautan, sendiri ataupun berdua. Belum banyak kurasakan perbedaan. Apakah karena jiwaku masih kanak-kanak? Aku kurang dewasa. Masih plin plan. Penuh keraguan. Padahal umurku sudah hampir seperapat abad. Malu rasanya. Namun memang beginilah aku sekarang. Tak tahu bagaimana nanti.
Tapi, ya, terima kasih banyak sekali kuhaturkan untuk si Bapak Tua. Isi surat darinya sedikit membuatku terharu. Akan kusimpan baik-baik perempuan menganga yang dia kirimkan untukku ini. Bolehlah kupanggil dia Jingga. Sudah lama aku tak bercerita dengan boneka, atau ponsel, atau benda-benda mati lainnya. Kenangan masa kecil penuh kesendirian. Puncak kepribadianku sebagai introvert mediator. Akan kucoba mengaktifkan lagi kreativitasku yang sempat redup. Dikelilingi jalan buntu.
Sekali lagi, terima kasih sudah mendengarkan celotehku tentang hadiah dari Pak Sukab, Langit.
Di bawah langit mendung, 6 Mei 2019.
Sabtu, 30 Maret 2019
Rindu
Aku rindu.
Rindu masa-masa penuh keingintahuan. Rindu hari-hari penuh pencarian. Rindu membaca, menulis, dan mendengarkan. Rindu belajar dan mempelajari hal-hal baru.
Kontemplasi dini hari ini berputar di masalah perkuliahan. Aku yang sudah lulus dan keluar dari kampus setahun lalu merasakan lagi rindunya masa polos tanpa beban. Masa-masa dimana aku bisa mencoba apa saja. Mempelajari apa saja. Berselancar di dunia maya tanpa memikirkan besok harus bekerja.
Sebagai seorang yang mudah tertarik akan sesuatu, berselancar di dunia maya merupakan kelemahanku. Aku akan terjerat di satu topik dan terus-terusan mencari tahu tentang hal itu sampai aku bosan atau muncul topik baru yang mengalihkan perhatianku. Aku adalah seorang penjelajah dan pengamat. Bukan tipe orang yang mampu benar-benar menjadi profesional, karena sikapku yang mudah teralihkan perhatiannya, sehingga aku cenderung lebih nyaman berada di lingkungan yang stabil.
Hari ini, menonton video-video perkuliahan Jerome Polin membuatku merindukan saat-saat perjuanganku untuk masuk kuliah. Teringat berkas Monbukagakusho yang sempat kucetak, kuperhatikan lamat-lamat, kucoba mengisi beberapa bagian, hingga berkali-kali memelototi gerbang Kantor Kedutaan Jepang di Thamrin setiap kali diantar omku melewati jalan itu, membayangkan aku akan menyelipkan seberkas amplop coklat di kotak suratnya. Hingga pada akhirnya aku menyerah, menyerah pada situasi tanpa mau mencoba lebih keras, aku berhenti memikirkan isi kolom esai dan motivation letter dalam formulir itu. Berkasnya kusimpan dalam map yang kemudian kukancing rapat dan tak pernah kubuka lagi.
Tapi mungkin takdir membawaku ke tempat lain yang juga sama sekali tak kusangka. Berkuliah di Kota Palembang tak pernah sedikit pun terbersit di pikiranku, namun aku menikmatinya. Karena aku mempelajari hal yang memang aku niatkan sejak lama. Seandainya aku melanjutkan Monbu, mungkin aku tidak akan menjadi dokter, karena aku akan mengambil course lain.
Yah, begitulah ke-random-an malam ini. Intinya. Intan kangen. Kangen belajar bahasa lagi. Kangen menulis lagi. Kangen sekolah lagi.
Senin, 13 November 2017
Been a While
Hi, pals.
It's been e while since last time I got here. As usual, I feel triggered to write something after some couple hours spent on blogwalking or surfing through my Instagram feeds. Today I found myself reflected on some events happened this month, some photos of my acquaintances, some post on people's blogs, and another personality test to wander my everchanging trait. So this time I would like to tell you bout my reflection on these stuffs.
First is my friend's confession about her virtual encounter related to my admired person. When I heard that for the first time, I shocked, literally had my jaw fell down after reading her message. I told her how I felt about that person, how I see him from another perceptive, how she might be a suitable others to him, and how she need to let loose of those walls that she keep up high before.
Second is an unexpected meeting to join a big family, to be exact I didn't even have any thought on becoming a part of it. But overall, there's not much I could share about this one, cause I still can't comprehend the event itself.
Third is about my wish to study abroad or at least spent a few months to explore some countries while having a task to do. I surfed through the internet to found any post or photos of people I know which spent quarter of his/her life on another continents. This is my sole reason to write this post. To share my biggest dream to the world, to find courage and decide which best to follow. I see people changing everyday while living their lives, made so much decision opposed to their family's belief. I'd like to tip my hat for these people and share my thought with them. But not knowing means I won't have any courage to chat them first. So there goes my imagination again.
Last is my curiosity about my personality. Once again I challenge 16personalities.com to determine my trait. All this time I always believe that I was an introvert, but along the time I slowly realized my appearance changed into an extrovert. This trait keep taking turn to affect my life, so I may be an ambivert that didn't have an exact line to restrict my behavior.
That's all I can share to you for now. I hope we can meet anytime soon. Pray for my initiative to take over my brain.
(Alang Alang Lebar, in the middle of November 2017)
Jumat, 28 Juli 2017
People Change in A Minute
People change in a minute
Now you wonder about your being
Next time you already turn path
People change in a minute
So do what you want to do now
Do not procrastinate
Cause the next you won't be the same you
People change in a minute
Believing and to be believed
Loving and to be loved
She needs an effort
She even needs a change
People change in a minute
Standing on your feet
Thinking by your brain
But do not ignore your heart
She has the same amount of responsibility
Of you and your doing
People change in a minute
Maybe I am next
-Madang, on one solemn morning-
290817
Minggu, 07 Februari 2016
Inspiration VS 'Nasty' Brain
I: Knock knock.
B: What?
I: Can you please let me in?
B: You don't need to ask me. Just come, like usual.
I: But you won't let me. I stuck here.
B: Aww, maybe because my mind filled with nasty things. Urgh, I hate it. Wait a minute, I'll try to clean it.
*few days later*
I: Hello, Brain! I miss you so much!
B: Hey, glad to see you finally come by yourself, Inspiration. I miss you, too.
*while your thought is full of junk, you won't be able to do some meaningful task. And when that time has come, just remember Him, search for Him, talk to Him, and let yourself be free*
Rabu, 27 Januari 2016
Mencari dan Menemukan
Kita mencari untuk saling menemukan. Sayangnya mode pemain acak tak semudah itu kita kalahkan. Setiap hari bergulat melawan keberuntungan untuk menemukan kamu di antara ribuan orang lain yang juga berebutan ingin ditemukan. Mungkin cara kita sejak awal salah. Seharusnya kita berbagi identitas, menyatakan dengan jujur segala yang perlu diketahui dan menyembunyikan dengan manis hal-hal yang tak perlu. Tapi kita terlalu dungu untuk sekadar menyadari hal itu.
Di dalam tumpukan jerami akan lebih mudah menemukan jarum daripada sehelai jerami belang-belang. Kita terlalu sama. Kamu akan tenggelam dalam ramainya kawananku hingga aku tak akan bisa menemukanmu. Dan kamu akan terlalu sibuk mencariku, menyapa setiap jerami yang kau sentuh hingga lupa bagaimana bentukku.
Kamu. Cari. Aku.
Aku. Cari. Kamu.
Mungkin akan tiba waktu. Saat kita saling menemukan. Saat jalan kita bersimpangan. Saat akhirnya takdir lelah dan mengalah.
Jumat, 22 Januari 2016
Hello, Long Time No See!
Hey, pals.
Sorry i must have neglecting you this whole time. I just get so caught up in moments and have a real bad habit that made me so lazy to even write some words, don't mention paragraphs. Now is my comeback period, 2016 must be my wonderful year to write history! Just like my beloved Winner oppa 😍 *ignoremyfangirlingtime*
Haha. Sebenarnya aku juga sudah sangat rindu menulis. Berkali-kali aku nyoba. Sayangnya, mungkin karena lobus prefrontal cortex-ku mulai tumpul, kata-kata itu nggak keluar. Sedih banget. Makanya sekarang aku berusaha menajamkan kembali bagian itu. Melihat kembali kosakata yang aku punya dalam brankas diksi. Yang semoga saja masih rapi. Aamiin.
Sudah lewat hitungan hari dari genapnya 21 tahun usiaku. Aku sudah tua, waktu hidupku terus berkurang. Tanya resolusi? Banyak. Yang pertama dan utama tentu saja lulus sarjana, meskipun langsung lanjut langkah berikutnya. Syukurlah aku sudah sidang akhir. *menghelanapas*
Usia 21 harusnya membuatku makin baik, makin sabar, makin tabah, makin konsisten. Iya, makin konsisten. Satu kata yang menghantuiku selama ini. Konsistensiku terhadap suatu hal sangat minim, bahkan kepribadianku pun tak konsisten. Ambivert. 3 tahun lalu aku masih seorang ISFJ, tadi pagi aku dinyatakan berubah menjadi ENFP. Yah mungkin karena dulu dan sekarang jaraknya hanya condong 5% antara introvert dan ekstrovert, makanya dia mudah bergeser. Satu yang tidak berubah hanya konsistensiku menggunakan perasaan. Ah, dasar perasa yang tidak peka. Maafkan aku.
Oh ya, setelah sekian lama tak jumpa aku ingin memberikan sesuatu pada relung ini. Bilik tempatku bersembunyi dari kenyataan, yang menunjukkan diriku yang (mungkin) sebenarnya. Postingan berikutnya adalah tulisan yang kubuat dalam beberapa waktu terakhir. Karena FYI, ponsel pintarku yang sebelumnya rusak total sampai ga bisa dipake lagi. Jadi yang sekarang baru menyimpan sedikit sekali cerita.
Semoga aku lebih konsisten dan produktif lagi. Aamiin.
Kamis, 04 Juni 2015
Tanpa Judul (2)
Senyum itu masih di sana.
Aku lagi-lagi menghindari tatap matamu yang setajam elang.
Aku tak pernah mampu menerka isi kepalamu, apalagi hatimu. Kamu yang menyimpan semuanya untuk dirimu entah mengapa macam mencoba membagi.
Mungkin aku terlalu merasa, aku terlalu berharap. Pribadimu memang tak sama dengan orang biasanya. Kamu unik. Mungkin karena itu pula aku tertarik. Meski tutur bahasamu tak cantik, namun getar pita suaramu sanggup membuatku tergelitik.
Madang, 2 Mei 2015
(Ketika di luar hujan lebat)
Minggu, 08 Maret 2015
KataBertaut 2 (edisi Kompilasi KAS_3G)
(09/03/15 - 00.20-00.28)
Temani daku merasakan desingan angin malam ini
Meski sungguhnya angin malam tak terasa di sini
Biarkan rembulan menjadi penghubung antara kita
Dan bintang-bintang menyaksikan kita dari tempatnya
Walau mimpi yang bawaku padamu
Hanya bertahan hingga mentari menyapa pagi
Memaksa kita memilih
Bangun dan mengejar mimpi atau kembali tidur dan melanjutkan mimpi
Karena mimpi tetaplah mimpi
Tapi sudahlah.. biarkan esok berbicara
Setelah aku mengusahakan semuanya, tinggal doa yang tersisa
Biarkan setiap detik membuat ceritanya sendiri
Hingga cerita hanya tinggal cerita
Dan perjuangan akan terasa hingga rasa itu tiada
(Cihuuuy, Muhammad Sanjaya memulai lalu Intan Chairrany, George Frazteo, dan Oddy Pratama melanjutkan syair bertaut ini. Dalam waktu 8 menit, 4 orang menyusun ini secara tidak berturut-turut. Tidak buruk.)
Tentang Perempuan
Nasib perempuan sekarang lebih baik daripada beberapa masa yang lalu, dimana kaum perempuan diberi hak dan kewajiban yang timpang. Alhamdulillah, saudari-saudari sekarang bisa dengan bebas belajar dan berkarya atau masihkah dirasa belum bebas? Lantas,perubahan apa yang akan kalian upayakan demi perbaikan?
Cc: Miak KAS_3G
Perubahan apa?
Ketika sekarang perempuan bisa bergerak seluwes laki-laki, hendaknya memanfaatkan keluwesan itu untuk belajar dan berbakti.
Dalam bentuk apa?
Sungguh, sebaik-baik perempuan adalah ia yang multitalenta, karena perempuan ada untuk dunia. Tanpa perempuan, maka tiadalah lagi kehidupan. Perempuan ditakdirkan memiliki rahim sebagai tempat berkembangnya manusia lain. Sejatinya seorang perempuan akan menjadi ibu, dan seorang ibu haruslah menjadi dokter, guru, koki, dan pahlawan. Saya akan manfaatkan kebebasan yang negara berikan dan karunia yang Allah berikan untuk mengumpulkan beragam ilmu. Menguasai ilmu kedokteran seperti yang sedang saya geluti sekarang, menekuni dunia penyiaran agar banyak pengetahuan yang bisa saya kumpulkan, menelusuri resep-resep masakan agar anak-anak saya bisa makan makanan enak dan bergizi setiap hari, menyulam benang-benang agar dapat memberikan kehangatan pakaian buatan tangan kepada yang terkasih, dan terakhir yang tidak kalah penting, yaitu membaca buku-buku cerita agar bisa memberikan dunia kepada anak-anak saya melalui mata dan hatinya.
Lalu apa yang akan saya berikan untuk perubahan?
Saya akan mendampingi lelaki yang telah meminta saya pada Ayah saya. Menyeka keringatnya saat ia pulang kelelahan, menyiapkan paginya dengan senyum dan sepaket sarapan, memeluknya ketika ia tenggelam dalam penat pekerjaan, tampil cantik di hadapannya agar terpulas selalu senyum di wajahnya, serta menjadi pakaian untuknya sebagaimana ia menjadi pakaian untuk saya. Menjadi istri yang berbakti sepenuhnya agar terjalin hubungan baik antara dua kehidupan, dua keluarga yang kami satukan.
Saya akan lahirkan kesatria-kesatria tangguh dan putri-putri yang menawan dalam lingkungan keluarga yang indah meski besarnya rumah tak seberapa. Saya akan menjadi ibu yang cerdas material dan spiritual agar dapat menyediakan madrasah pertama bagi calon-calon penerus bangsa. Saya akan tebarkan kebaikan lewat sela-sela jari dan sudut-sudut bibir, agar tetangga pun selalu saling menyayangi. Saya akan jadikan keluarga saya agen Tawassaw (penyampai pesan) agar masa (waktu) yang Allah berikan kepada kami tidak sia-sia.
Madang, 8-9 Maret 2015
(untuk menjawab pertanyaan sobat saya, Muhammad Sanjaya, yang diajukan tengah malam mendekati akhir Hari Perempuan Internasional ketika saya mulai berlagak penat melihat tumpukan materi ujian)
Selasa, 03 Maret 2015
Tanpa Judul
Aku di sini duduk memandangi detil wajahmu sambil menyiangi ragu yang melekat keras dalam hatiku. Kutancapkan pandanganku pada figurmu yang kaku. Lalu aku menunduk, sedikit banyak merangkum kita dalam benak.
Kau dan aku dua pribadi yang berkebalikan. Kita sama-sama menyembunyikan diri dalam topeng-topeng yang kita buat sendiri. Aku sang pecinta sepi memakai wajah ceria penuh gelak. Sementara kau si pendamba canda menyembunyikan sungging tawa dalam kerut-kerut dahi. Setiap hari kita berbohong pada cermin yang kita hadapi pagi-pagi.
Aku mendongak lagi untuk kemudian mendapatimu juga sedang melihat ke arahku. Ketika mata kita bertemu aku bertanya dalam hati, pada akhirnya apakah kita mampu membuka kedok ini? Menuturkan kisah yang sebelumnya kita simpan sendiri-sendiri. Untuk kemudian menyusun cerita masa depan yang kini masih berupa misteri.
Madang, 3 Maret 2015
(Di malam yang hening, setelah membaca beberapa tetes Hujan Matahari yang dituangkan Kurniawan Gunadi. Karena tetiba saja aku mengingatmu.)
Selasa, 27 Januari 2015
Cerita dari Sahabat
(Baru saja aku membongkar dropbox-ku lalu menemukan satu file ini. Tulisan yang kubuat lebih dari sebulan lalu, ketika aku sedang sibuk melarutkan diri dalam cairan baru. Manis namun ironis, memurutku. Haha)
Hari ini sobatku membawa berita gembira yang membuatku terhanyut dalam euforia. Seringai lebar tak hilang-hilang dari wajahku sepanjang ceritanya. Katanya orang itu sudah menyukaiku dari awal mengenalku. Katanya ada sesuatu yang berbeda dariku, bagus katanya untuk dijadikan istri. Aku tersipu, masih separuh tak percaya. Aku juga menyukainya, tertarik padanya sejak pertama aku tau siapa dia. Aku memperhatikan gerak geriknya mencari tahu siapa dia, diam-diam tanpa ada yang tahu. Ternyata dia pun begitu. Dia menyimpan perasaannya untuk dirinya sembari terus berdoa.
Tidak pernah ada yang tahu kapan suatu perasaan akan datang. Yang kita tahu, ketika Allah ingin mempertemukan dua hati, Ia akan menggerakkan keduanya, bukan hanya satu saja. Tak ada yang tahu bagaimana rasa itu tercipta, yang kita tahu hanya gelenyar pelan yang merayap indah di dada. Kami sama-sama memendam rasa sejak lama, meski tidak saling berbicara. Kami saling mengenal bahkan hidup dan bercerita dalam dunia yang sama meski jarang saling menyapa. Kami sama-sama pemalu, entah karena pada dasarnya begitu atau karena perasaan yang menahan kami dan membuat kami segan berkata. Tanpa perasaan ini mungkin aku akan berbicara biasa saja dengannya, memanggilnya, mengajaknya bercerita, seperti teman-temanku yang lainnya. Tapi karena ini aku takut satu kalimatku dapat membuatnya menyadari apa yang kurasa. Aku malu. Karena aku tidak tahu.
Cerita teman dekatku bahwa ia terus mencoba memperbaiki dirinya membuatku tersentuh. Aku disini masih saja terhanyut dalam masa lalu, cerita-cerita lamaku, sementara ia terus bertransformasi menjadi baru. Sampai saat menulis ini aku masih tersenyum, mengingat-ingat gumpalan perasaan yang kupintal sejak entah kapan. Yang sekarang macam terjawab dengan pergerakannya. Hati yang selama ini kusimpan sendiri mulai mau menduplikasi kunci. Karena sekarang tak mau lagi terbawa arus perasaan palsu, aku mencoba membatasi jumlah kunci yang kutempa. Menyisakan satu hanya untuk dia yang nanti datang menemui Papa. Memintaku menjadi pendampingnya sampai akhir waktu kami di dunia, dan semoga bertemu pula di akhirat-Nya.
(Madang, 8 Desember 2014)
Sabtu, 27 Desember 2014
Khitanan Massal Perdana
Kemarin (27/12) saya mendapatkan pengalaman pertama menghadiri sekaligus terlibat dalam Khitanan Massal. Kesempatan ini datang dari undangan Kak Agusdianto, senior SMA sekaligus di FK Unsri yang merupakan anggota BSMI yang diundang untuk membantu dalam kegiatan yang diadakan oleh YatimMandiri dan Pertamina di Lorong Perdamaian, Jalan M.P. Mangkunegara, Kenten.
Operator dalam khitanan ini adalah Kak Agus, Kak Engky, dan Kak Febi, mahasiswa post-co-ass yang masih menunggu waktu UKDI. Dan yang beruntung diajak menjadi asisten adalah Kak Taufan, Kak Dayat, Reska, Dinda, Yuli, dan saya sendiri. Sebenarnya kakak-kakak ini mengusahakan angkatan 2011 semua yang membantu, tapi sepertinya yang dihubungi banyak yang berhalangan sehingga jadi kami yang diajak, yah hitung-hitung sekaligus sebagai media pembelajaran bagi kami.
Meskipun di sini saya bukan menjadi Operator, alhamdulillah dalam waktu 4 jam tadi saya bisa mengetahui dasar-dasar teknik khitan (red: saya tidak bilang sirkumsisi karena kami memang tidak melakukan itu). Mulai dari teknik aseptik antiseptik, cek phimosis paraphimosis, anastesi blok dan subkutis, memasang klep jam 6 dan 12 sebelum menentukan batas glans, memotong preputium cara pancung, jahit pembuluh darah kecil, sampai jahitan 8, dan jam 6, 9, 12, 3. Selain itu saya juga menyaksikan cara memastikan jarak glans penis dan memasang klep di atasnya untuk mempercepat proses khitan tanpa sirkumsisi, serta cara merapikan kalau masih ada bagian yang belum terjahit dengan menambah pada jam 5 atau jam 7.
Luar biasa, pengalaman hari ini insyaallah akan selalu saya kenang. Beragam jenis pasien dan keluarganya membuat saya terbayang bagaimana nanti ketika saya turun ke daerah. Bagaimana hebohnya Gilang, pasien pertama kami yang menendang-nendang, menolak melihat, dan berteriak kesakitan sehingga merasa itu adalah salah saya karena seenaknya saja seorang amatir menginjeksikan anastesi subkutis lateralnya... Saat menangani Gilang, saya menjadi asisten 1 yang buta arah. Selain melakukan anastesi subkutis, saya hanya melakukan tindakan aseptik antiseptik, menyerahkan minor set ke Kak Agus.
Setelah Gilang, datanglah Rafi bersama kedua orang tuanya. Rafi sangat heboh meronta-ronta padahal di meja sebelahnya, Haikal (yang ditangani tim Kak Febi) diam saja bahkan tertawa-tawa ketika penisnya sedang dijahit. Kehebohan Rafi membuat dia batal dikhitan oleh tim kami, memberi kesempatan bagi orang tuanya untuk membujuk.
Selanjutnya meja operasi kami disejukkan oleh kalemnya Naban, pasien kedua dan yang paling tenang meski hanya ditemani ibunya. Bocah 9 tahun itu menyaksikan semua proses khitan tanpa menangis sedikit pun. Kali ini saya masih menjadi asisten 1, dan mulai melakukan teknik-teknik dasar. Anastesi blok, mulai dari pemilihan posisi (masih diarahkan oleh Kak Agus) hingga injeksi subkutis lateral kiri-kanan, aman. Saya juga membantu proses penjahitan, meski masih sering salah mengikat. Berkali-kali benang terlepas karena tidak tersimpul. Untungnya Naban sangat kooperatif sehingga saya bisa melaksanakan percobaan pertama saya dengan baik.
Namun sepertinya keberuntungan kami berhenti di Naban. Pasien ketiga kami, Marcel, agak sulit dibujuk. Sebenarnya anak ini sudah diantar ke meja kami ketika Rafi batal dikhitan, tapi rontaannya yang lebih sensasional membuat gilirannya ditunda. Ternyata dia jadi heboh begitu bukan hanya karena melihat teman-teman yang dikhitan sebelumnya menangis keras, tapi karena dia malu penisnya dilihat orang lain. Lucu ya, haha. Alhamdulillah akhirnya Marcel berhasil dikhitan, kali ini saya menjadi asisten 2 sehingga saya lebih menikmati interaksi bersama keluarganya. Saya juga menyaksikan betapa bersemangatnya Sang Ibu meyakinkan anak kelas 1 SD itu bahwa untuk jadi polisi harus disunat. Hehe.
Kiki, pasien terakhir yang saya tangani sebagai asisten 1, membuat saya hampir merasa menjadi operator. Sayangnya, setelah satu kali berhasil melakukan anastesi blok dengan lancar, pada kali ini sepertinya saya malah sudah memasukkan 0.1 cc larutan Lidocain kedalam pembuluh darah Kiki. Untung Kak Agus sadar dan meminta saya mengecek ulang dengan sedikit menyedot bagian yang saya tusuk, tampaklah cairan merah berdilusi dalam spuit 3 cc yg saya pegang. Saya ketakutan.. Melihat saya hampir blank, Kak Agus segera memberi instruksi untuk mencabut spuit pertama dan menggantinya dengan Lidocain baru. Dan alhamdulillah sebelumnya kami sudah memasukkan cukup banyak larutan tersebut dari ampul ke spuitnya sehingga tidak ada kepanikan yang berarti dalam kejadian ini.
Dibalik musibah selalu ada berkah, walaupun tadi pada percobaan pertama (Naban) saya sempat kesulitan dalam memasang simpul jahitan, alhamdulillah kali ini saya sudah mulai bisa merasakan 'feel' yang sering disebut-sebut oleh Sang Operator sekaligus Instruktur di tim kami, yaitu Kak Agusdianto. Dan alhamdulillah berhasil melakukan fase klep, pancung, hingga jahit pembuluh darah dan epitel di semua sisi dengan cukup baik. Tentu saja Kak Agus masih menetapkan batas glans sebelum diklep dan dipancung, memilihkan epitel dan posisi jahitan, juga menggantikan anastesi blok dan suntik lateral kanan.
Terimakasih banyak Kak, sudah mengajak saya turut serta dalam kegiatan bakti sosial ini. Pengalaman ini insyaallah akan terus saya kenang agar menjadi batu loncatan untuk menjadi lebih baik. Dan semoga adik-adik yang dikhitan hari ini tetap sehat tanpa ada komplikasi apapun. Aamiin..
Sabtu, 20 Desember 2014
Harusnya
harusnya kita diam saja
menikmati getar rasa dalam dada
harusnya kita diam saja
melirik dengan jarak sekian depa
harusnya kita diam saja
menyulam tawa dalam sepi yang ada
harusnya kita diam saja
bercerita lewat kata yang tak teraba mata
harusnya kita diam saja
biar hati kita saja yang berbicara
harusnya kita diam saja
agar doa-doa kita terpanjat penuh gelora
harusnya kita diam saja
agar perasaan kita tak ternoda bintik-bintik dosa
harusnya kita diam saja
supaya pada waktunya kita indah saling mencinta
(Ditulis saat hati terisi perasaan yang belum seharusnya dimiliki, padahal sesungguhnya ada Allah Sang Maha Membolak-balikkan Hati)
Sabtu, 29 November 2014
Mau Membangun
Persamaan adalah salah satu kekuatan kita. Kita berjalan perlahan ketika waktu belum mengizinkan sampai tiba saatnya kita bisa saling mengungkapkan. Kita tahu ada arti di setiap lirik mata, kita sama-sama mengerti. Tapi kita mencoba menahan hati agar tak saling menyakiti, sebelum waktunya. Ketika orang-orang mencinta lewat gestur dan dialog mesra, kita menengadah mengharap dipertemukan oleh-Nya. Kita berbagi cerita tanpa saling bertatap muka. Memberikan perhatian secukupnya karena memang belum saatnya kita mencinta, cukuplah mendamba. Semoga nanti kita tetap dipertemukan, ketika kita sudah terlalu mencintai Tuhan kita satu sama lain yang akan semakin menguatkan kasih dan iman kita. Mari membangun rasa dan bersabar. Jika Allah mengizinkan maka sejauh apa pun kita pasti akan dipertemukan dalam majelis yang lebih indah :)
(Shubuh tadi setelah membuka tulisan-tulisanku tentangmu di buku catatanku)
PS: Tulisan ini telah tertuang dalam tweet pada @tancha_dewangga tadi pagi
Thanks For .....
Thanks for being you
Thanks for being a beauty little girl
Thanks for loving him much more than i do
Thanks for giving him those presents that I can never afford
Thanks for joking so much with him
Thanks for telling me the truth about me
Thanks for making me know how much I ignored him for a long period
Thanks for taking him away from me
Thanks for making him love you this much
Thanks for giving me the best heartbreak ever
Thanks for making me realize the time to say goodbye and make a new hello
Thanks for being you
(For you, the one which wouldn't even like if your name going to be written in here, my second world)
Rabu, 26 November 2014
Mencumbu Bisu
Kami menyulam rasa tanpa suara
Lirikan mata dan sungging tipis menjelma kata
Suatu kali mencoba bercerita
Kali lain bahkan segan memandang muka
Penasaran tak terelakkan
Apakah dia rasa yang kurasakan
Apakah kami bahkan dalam satu pengertian
Entah kutemukan jawabnya kapan
Sekarang saja aku bahagia
Hanya melihat dia di ujung sana
Kuraba senyumnya dengan picingan mata
Merasa-rasa benarkah adanya
Mari biarkan kisah ini berjalan
Tanpa ucapan tanpa ikatan
Biar hati kita yang punya jawaban
Hingga tiba waktunya terungkapkan
(Ditulis di pagi dingin berselimut sisa hujan November)
Kamis, 06 November 2014
Masihkah Peduli?
Kau benar-benar mundur perlahan, tanpa bisa kurabarasakan. Kau mengisi harimu dengan dia yang kau bilang selalu ada. Aku tahu kau butuh seseorang yang selalu ada untukmu seperti aku dulu. Dan kau juga tahu aku tak bisa lagi seperti dulu. Kau berjalan bersamanya dengan perlahan tapi pasti. Satu demi satu kenyataan mulai terkuak kini. Ketika kau tak lagi menyapa lima, ketika angkamu mulai berubah aku tak sadar. Sekarang aku yang tolol ini baru tahu yang sesungguhnya. Apa yang terjadi saat aku berujar silakan pergi. Kau sungguhan pergi tanpa tendensi untuk kembali. Kau sungguhan mundur teratur. Kemudian tanpa sedikit pun kumerasa, kau sudah berbahagia bersama dia di sana.
Aku tahu, kau bisa jadi tidak bermaksud menutupinya. Aku saja yang waktu itu kurang peduli.
Lalu sekarang, apakah aku masih peduli? Saat kau menyingkap semuanya, saat kau menjadi jujur, saat kau ingin menunjukkan pada dunia bahwa kau baik-baik saja. Ya aku peduli.
Semoga peduliku detik ini adalah peduli yang baik. Syukurnya degup di organ dada kiriku tak sekencang minggu lalu. Tak lagi ia teraba menggelegak dari luar, hanya sekadar gelenyar-gelenyar pelan yang sedikit mengusik. Membisikkan kenyataan padaku, memaksaku tetap peduli pada angan yang waktu itu terlalu tinggi kugantungkan. Supaya aku tetap peduli.
Di tempat ini aku bercerita, menitipkan kisah-kisah dan doa-doa pada langit. Hanya saja pintaku akanmu tak tersangkut baik, di atas sana ia bergoyang-goyang disenggol angin bersama desaunya yang entah kenapa waktu itu sangat memekakkan telinga. Hingga tiba suatu detik angan itu melayang terbang menjauhiku yang masih berdiri memandang awang. Melambaikan tangan dengan ringan setelah merasa begitu lama diabaikan. Dan aku masih peduli.
Angan itu kini ditukar dengan asa lain, yang kugantungkan pada tempat lain yang lebih tinggi. Kuantarkan ia ke atas pelan-pelan dan hati-hati. Kuikat dia di tepi langit agar Dia bisa selalu melihatnya, agar asaku kali ini tak menjadi sia-sia. Di sana kutitipkan juga doa untukmu agar diberikan yang terbaik untuk hidupmu kini dan nanti. Agar kau temukan bidadari surgamu di dunia tanpa perlu menggadaikan imanmu karena aku disini masih peduli.
Terimakasih.
Rabu, 05 November 2014
Surat Untuk Bumi
Selamat pagi, Bumi.
Subuh tadi aku disapa Debu, yang menggandeng Angin. Kau tahu foto? Gambar yang merekam kenyataan di masa lalu.
Sebelumnya Angin menunjukkan padaku bagian kecil foto itu, membuatku tak bisa menerka apa yang menjadi latar belakang. Entah kenapa aku merasa dibodohi ketika aku tahu akulah yang sebenarnya bodoh. Angin menjelma topan yang memporakporandakan pandanganku akanmu. Setelahnya, aku menyusun kepingan dusta yang ia serakkan diatasmu.
Aku tak menyangka serpih-serpih kenyataan menjadi mengerikan ketika kita tahu monumen apa yang menebarkan serpihan itu. Bangunan besar yang hanya kulihat kerikilnya saja. Aku tersenyum. Benar katanya bangunan itu seindah mawar, yang durinya menusukku tiap coba menyentuh.
Bumi, untuk apa dia menutupinya jika saat itu ia merengkuh Debu, aku tak akan peduli. Ketika ditutup lalu aku menyingkap tabir itu sendiri, kenyataan yang kuperoleh menusuk lebih tajam, lebih dalam.
Bumi, dalam diamku organ dalam dada kiriku berdenyut kencang. Aku bisa merasakan degupannya tanpa perlu menyentuh. Napasku jadi satu-satu.
Bumi, aku lelah menggapai Angin. Ia melulu berlalu dihadapanku tanpa menoleh, bercakap dengan Debu membentuk kabut putih yang makin mengaburkan pandanganku. Aku Langit yang harusnya bisa menyaksikan semua dari atas kini tak berdaya oleh kabut yang mereka ciptakan.
Bumi, bisakah kau melihatku? Karena pandanganku terhalang masa lalu. Mungkin kau bisa karena kamulah sang netral yang menikmati fenomena di atasmu.
Bumi, sambangi aku, sapa aku dengan uap asin lautanmu. Supaya aku bisa menggumpalkan awan jadi gelap dan menjelma rintik gerimis. Lalu guyuran hujan yang membasuh kabut itu dalam semalam. Agar esoknya aku pun bisa memandangimu dengan tersenyum lagi. Agar aku membiaskan biru yang cantik lagi. Agar aku bisa menikmati cokelatnya daratan, hijaunya hutan, birunya lautan, dan riuhnya perkotaan. Agar aku lupa kenapa mataku sempat terkaburkan.
Bumi, segera datangi aku, aku rindu.
Dari Langit