Sabtu, 13 Oktober 2012

inilah tulisan bergenre RANDOM


Sekian lama saya tidak menatap langit. Rindu? Tentu saja. Saya adalah satu dari sekian banyak orang yang menganggap birunya langit sebagai tempat bercerita yang paling tepat.
Saya menyukai langit. Sangat suka. Sejak kecil, saya selalu suka mencari tempat duduk di dekat jendela. Supaya leluasa menatap langit siang yang biru terang.
Hampir dua bulan berlalu sejak kepindahan saya. Tak pernah sekali pun saya benar-benar meluangkan waktu bercengkrama dengan langit. Bukan karena saya tidak sempat. Bukan. Tapi karena keadaan yang tidak memungkinkan.
Langin di kota ini seakan malu-malu. Tiap pagi saya berusaha menyambutnya, tapi tidak ada kilau biru darinya. Pandangan saya selalu tertutup kabut putih yang senantiasa menyelimutinya. Sepulang kuliah pun saya tetap tidak bisa menatapnya. Debu polusi menghalangi niat saya untuk sekadar mendongakkan kepala menatao keindahan yang tercipta disana. Kamar kos saya pun sama sekali bukan tempat yang bagus bagi pengagum langit semacam saya. Hanya ada sepasang jendela di ruang tamu. Sisanya dinding. Dan saya bahkan harus selalu menyalakan lampu, bahkan di tengah hari.
Sore ini Tuhan member saya waktu menatap langit. Tapi sayang, ia sedang bersedih. Mendung kelabu menyelimutinya sejak tadi, lama sekali. Angin pun meniupkan udara dingin yang tidak nyaman. Malam ini akan hujan, saya berprediksi. Ternyata Tuhan mengaminkan prediksi saya. Bahkan sebelum malam tiba, gerimis telah mengguyur kota ini dengan lembut. Rintiknya memperdengarkan simfoni indah yang tidak setiap hari bisa didengar.
Saya suka langit, dan hujan. Tapi saya tidak suka menatap langit dikala hujan. Saya hanya memandangi tetes-tetesnya yang kadang menepuk-nepuk kaca jendela saya. Manis.
Dan sekarang, bukan lagi titik-titik gerimis yang terdengar. Hujan turun dengan sedikit beringas, lalu tiba-tiba terhenti, seperti saat ini. Bahkan hujan pun bisa menjadi labil., seperti hati manusia yang tidak selamanya selembut gerimis. Suatu ketika akan datang badai yang menyapu daratan atas kuasaNya, menggoyangkan nyiur yang biasanya sekadar melambai di tepi pantai, dan mungkin bisa merobohkan apapun yang dikehendakiNya.
Hujan sore ini, menjadi refleksi untuk saya. Saya harus sadar, dunia tidak akan selalu berjalan seperti titik gerimis. Saya harus siap jika suatu ketika badai cobaan datang. Saya harus siap dengan segala peralatan saya, payung, mantel, apapun itu supaya saya bisa mengurangi efek yang bisa ditimbulkan oleh sang badai.
Tuhan, tunjukkanlah saya jalan yang terbaik. Ampuni saya yang sering lupa, Tuhan. Saya malu, saya takut. Saya tahu saya terkadang hanya sekadar berorasi. Ampuni saya Tuhan. Saya mencoba, dan akan selalu mencoba. Kuatkanlah hati saya, Tuhan. hambaMu yang lemah ini hanya mampu berdoa memohon kepadaMu. Di bawah derasnya hujan petang ini, kabulkanlah doa hamba Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar