Senin, 09 Agustus 2021

thoughts

Hey, it's me again.

In my twenty six years of life, I never peg myself as a woman who need to be assured of anything. My my, you as my old friend must be know how hard insecurities and inferiority complex have hit me. But I never ever thought that I need the words of affirmation more than once. I am a disbelieving one. I never really trust people's words. When they say they adore me, I doubt that, persistently. Because of my inferiority, I always thought of what to be adored from a woman like me?

It was very hard to act out the quote "Love yourself". I love myself, it's non-questionable. But I doubt that other people love me too. I know many positive points of myself, but I don't think others would catch that. So it's really hard to believe when someone said that kind of thing.

I need to be assured everyday, everytime I doubted myself, that I am loved, by someone other than myself.

Wow. Still couldn't believe that my actual love language is not quality time or physical touch. It is words of affirmation that I need to hear regularly.

Jumat, 09 Juli 2021

Analisis Penyerangan KKB di Papua dan Kaitannya dengan Aspek Bela Negara

 

Selama pertengahan hingga akhir Mei 2021, terjadi rentetan kejadian tak diharapkan di salah satu pulau besar Indonesia. Penyerangan beruntun yang berujung baku tembak antara Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dengan TNI-Polri terus menerus terjadi di berbagai kabupaten di Papua hingga memakan banyak korban jiwa. Selain mengincar apparat, KKB di Papua juga melakukan pembakaran gedung sekolah. Diketahui ada sekitar 150 orang KKB militan di Papua, beberapa dari mereka menyerahkan diri  dan menyatakan ikrar setia pada NKRI. Anggota yang telah berikrar cinta ibu pertiwi diberikan pengamanan khusus dari kepolisian, namun tetap ditindak sesuai dengan kesalahannya. Pihak kepolisian berupaya melakukan pendekatan pada anggota KKB secara humanis dengan cara memberikan pemahaman dan jaminan kepada pihak-pihak yang belum sejalan dengan NKRI.

KKB Papua yang menyebut dirinya sebagai Tentara Nasional Papua Barat – Organisasi Papua Merdeka (TNPB-OPM) ini pun sedang dikaji apakah tergolong dalam Kelompok Separatis dan Teroris (KST) karena yang kali ini diserang bukan hanya aparat, melainkan juga masyarakat sipil. Akan tetapi, keputusan ini bisa jadi akan menyebabkan masyarakat sipil Papua menjadi korban karena dilabeli teroris.  Pemimpin Persatuan Gerakan Pembebasan Papua Barat menyatakan bahwa pelabelan teroris ini tidak sesuai karena dia merasa bahwa terorisme adalah penggunaan kekerasan terhadap masyarakat sipil untuk mengintimidasi secara luas demi tujuan politik. Menurutnya, hal ini telah dilakukan oleh militer Indonesia selama bertahun-tahun. Mereka mendesak Indonesia untuk menarik kekuatan militernya dari bumi Papua. Menurut pendapatnya, pasukan dan helikopter militer Indonesia hanya mendatangkan ketakutan bagi perempuan dan anak-anak di perkampungan Papua.

Dalam salah satu konferensi pers, Ketua MPR menerintahkan untuk menumpas habis KKB Papua tanpa memedulikan urusan HAM. Hal ini memicu kontroversi dari berbagai kelompok masyarakat karena pernyataan ini dianggap bisa mendorong peningkatan kekerasan di Papua, serta hanya akan melanggengkan siklus kekerasan yang dapat mengorbankan warga sipil dan aparat keamanan. Hak Asasi Manusia merupakan kewajiban konstitusi yang seharusnya menjadi prioritas dalam setiap kebijakan negara. Apabila dikesampingkan maka akan melawan hukum internasional dan juga konstitusional.

Tindak kekerasan dan baku tembak seperti ini bukan baru sekarang terjadi di Bumi Cendrawasih, melainkan sudah terjadi sejak bertahun lalu hampir di seluruh penjuru Papua. Pada tahun 2018, Kapolri pernah menyatakan dalam suatu pertemuan bahwa motif dan tujuan utama KKB Papua ini adalah kesejahteraan. Menurut beliau, kekerasan semacam ini sudah cukup banyak yang berhasil diredam, terutama di daerah-daerah yang sudah mulai naik tingkat kesejahteraan dan kemakmurannya. Beberapa pengamat politik menilai bahwa penyerangan ini bertujuan untuk menarik simpati dunia karena dukungan negara-negara lain terhadap pemisahan Papua dari Indonesia. Mereka meminta intervensi militer dari Pasukan Keamanan PBB serta mencari dukungan moril dan materiil dari Uni Eropa, Afrika-Karibia-Negara Pasifik, dan semua anggota PBB demi hak merdeka dan hak penentuan nasib sendiri untuk negara-negara yang terjajah.

Masalah ini tidak akan pernah selesai jika kedua belah pihak (pemerintah Indonesia dan KKB Papua) tidak mau duduk bersama untuk membahas win-win solution untuk masing-masing pihak agar tidak ada yang merasa dirugikan dari keputusan yang dihasilkan. Menurut saya, kekerasan tidak akan pernah menjadi jalan yang bisa dibenarkan dalam mencapai perdamaian. Advokasi personal dan kelompok harus dilakukan secara berkala agar tercapai perdamaian dan kemakmuran di Bumi Cendrawasih. Perbincangan dan diskusi harus dilakukan di tanah Papua dalam kondisi yang tenang tanpa diawasi oleh militer supaya tidak ada keputusan yang diambil berdasarkan paksaan dari salah satu pihak. Saya percaya kedamaian dan kemakmuran dapat diwujudkan di tanah Papua tanpa harus memisahkan diri dari Nusantara.


Disusun untuk memenuhi Tugas 1 Agenda 1 Diklatsar CPNS Kabupaten Bangka 

Golongan III Angkatan II Kelompok 4

 

 dr. Intan Chairrany

RSUD DR. Eko Maulana Ali Belinyu

Coach : Dra. Enny Habibah, MM

Minggu, 20 Juni 2021

Happy Father's Day

Hello from the other side, Pa.

It's been a while since last time I visited your new home... I miss you so much. I've been crying madly anytime I remember the reality that you were not with us anymore. It's already more than a year since you left us. We've been coping beautifully, but it will never be the same again without you. Just the sole point that you were here once, has changed everything.

If I have any privilege in life, the biggest one is being your daughter. Having you as my father was the most grateful thing in this life.  You and Mama have guided me into life, being the best and the most powerful version of myself. Being the strongest princess in your kingdom. You are a decision maker, you are a mediator, you are a peace keeper, and you are all I inspire to be. You taught me how to speak, you were the one who made me love to learn many languages, you let me be whoever I wanted to be.

You always seemed unbothered, but I know you will even give the world to me if I ever ask for it. Your love for me was bigger than anything I could ever imagine. I was crying like a baby the moment some other man took my hand, without you to witness it... I really want you to be here and stand beside me to see through every moment, but I hope thay you see it and be happy for it from the other side. All you need to know is my love for you can not be replaced with anything. I will always love you and pray for Allah to bring us together again in His Jannah.

Happy Father's Day, my very first love, my guardian, my beloved Papa.

Jumat, 04 Desember 2020

Regret Always Comes Late

Hey, Little Round Spot...
I'm sorry for being an irresponsible mother-to-be...
I'm so sorry to lose you even before life comes to you...
I'm sorry for neglecting my wellbeing and ignoring your needs...
I'm sorry for not having enough rest and nutrition for you to grow healthy and steady...
I'm sorry for not able to bring you to meet your father...
I'm so so sorry for letting you go... 
I'm sorry and I'll repent on this matter forever...
I'll thrive my best to not lose another again...
I love you and will always do...

Rabu, 12 Agustus 2020

Jatuh vs Bangun

Jatuh cinta itu pilihan, bangun cinta itu komitmen.

Seperti yang pernah saya ceritakan dalam postingan saya sebelumnya, untuk jatuh satu orang pun cukup, tapi untuk membangun, minimal dua orang harus bekerja sama. Kenapa saya bilang dua orang? Karena sesungguhnya hubungan bukan hanya sekadar sang perempuan dengan lelakinya, tapi bagaimana mengikatkan tali cinta mereka pada kedua keluarga. Menjadikannya satu untuk menggenapkan bahtera demi mengarungi samudera.

Lalu mengapa saya menuliskan tentang ini?

Bukan karena saya ingin bersegera menikah, mungkin ingin, tapi belum sekarang. Saya menulis ini karena saya pegal melihat linimasa setiap media sosial yang saya miliki dipenuhi keluhan dan cacian anak-anak kecil yang mungkin belum tahu fungsi setumpuk rambut diatas kelopak matanya.

Kenapa harus alis?

Alis berada di sana sejak lahir, tidak hadir sebagai tanda seksual sekunder yang muncul setelah datang pubertas. Alis ada untuk melindungi kedua bola mata cantik kita dari tetesan keringat yang melulu turun dari pori-pori kepala. Alis tidak seperti bulu mata yang tepat melekat di kelopak. Alis menjaga jarak tepat untuk melindungi. Agar ia tak menjadi seperti bulu mata yang bisa menusuk-nusuk kornea saat tumbuh dengan posisi yang tidak tepat. Alis ada untuk melindungi dengan menjaga jarak ideal.

Lalu apa hubungannya dengan anak-anak itu?

Mereka yang mengoceh-ngoceh di dunia maya tentunya belum mengenal apa itu komitmen. Bahwa hati semestinya disimpan untuk satu yang akan mendampingi kita selamanya.

Kenapa saya bicara begini?

Karena saya juga pernah berada di posisi mereka. Hanya saja saya sedikit lebih tua saat pertama kali di sana. Dan setelah beberapa siklus berputar, entah siklus pendek atau panjang, saya sadar bahwa saya telah menyia-nyiakan waktu saya. Saya telah mengotakkan kehidupan saya dengan keberadaan seseorang yang belum sepatutnya masuk ke lingkaran itu. Saya pernah menjadi bodoh, atau mungkin sekarang masih begitu.

______________________________________________

Entah apa yang kupikirkan waktu itu ya. Tulisan ini awalnya kubuat sudah lama sekali, 9 Maret 2015. Wah, sudah lima tahun. Apalah yang ada dalam otak abege labil itu ya. Sok bijak kali omonganku. Tapi saat ini, aku sudah lebih dewasa. Sudah dua puluh lima tahun umurku. Sudah memiliki pengalaman yang lebih banyak lagi mengenai tema "Jatuh vs Bangun".

Sekarang aku semakin yakin untuk berkomitmen membangun cinta bersama dia yang hadir di waktu yang tepat. Dia yang namanya masih tanda tanya, yang akan mengajakku membangun dan menjadi dewasa bersama. Bertahun sudah menjalani hidup ini membuatku bisa menyeleksi mana yang ada untuk tinggal, mana yang hanya mau lewat. Di usia sekarang, prinsip "Halalkan atau tinggalkan" menjadi sangat penting untuk dipegang. Melihat prioritasnya, cara berpikirnya, menjadi faktor penting disamping ibadah dan akhlaknya. Karena menikah adalah janji untuk menghabiskan sisa umur bersama orang yang awalnya asing. 

Semoga aku dipertemukan dengan kamu yang mau membangun rumah penuh kebahagiaan dan keberkahan, bersama.

anxiety loop

I'm a big worrywart
My inner turmoil boiled deep inside
My self loathing tendency strike again
Self blaming is my regular meal
I couldn't stop feeling bad for myself

I think too much I feel too much
People's feeling burdened me
Too much human interaction hurts me
I feel the anxiety creeped inside me
Where would it go wrong
What should I do to avoid it
How could i survive this
Why did it go like this
Who can help me going through this
When will things get better
I stuck in this negative loop for nobody know how long

Hey, you
Please
Look at my bad side
Would you still accept me?
With my chiasm filled mind
With my ugly inner voice
Would you be the one to calm me down?
To reassure me that everything will be okay
To hug me tightly and pat my back
Then kiss my forehead to smoothen the crease
To make me believe that the world is not as bad as I think it is


(When my bad feelings started it's ministrations)