Kamis, 20 Desember 2012

Menulis, Menggambar, Hingga pada Suatu Kesepakatan

Semua bermula dari keisengan seorang teman yang meminta saya menuliskan satu nama hewan untuk di-summon jika saya mampu. Tentu saja dengan amat ringan saya akan menjawab : KUCING. Dari zaman dahulu kala saya memang sangat mencintai spesies Felis domesticus ini. Namun ternyata, reaksi yang muncul dari teman saya adalah kalimat, "Jiiaaaah... Sebanyak-banyak itu hewan liar yang gagah, kamu malah milih hewan peliharaan???". Ya wajarlah kalau saya menjawab seperti itu, toh dia sendiri hanya meminta saya menuliskan satu nama hewan tanpa menjelaskan maksudnya. Ternyata eh ternyata, yang ada dalam pikirannya adalah citra hewan yang akan di-summon untuk melawan musuh besar yang sangat mampu mengancam kesejahteraan dunia *baiklah, ini memang saya lebih-lebihkan untuk menambah efek dramatis*. Dan dia kembali meminta saya memberikan rekomendasi hewan buas, selain singa, elang, dan ular. Jujur saja, saya memang mendambakan singa sebagai hewan idaman, yang kuat, gagah, berwibawa. Namun, saya tak pernah sekalipun mengidolakan elang, apalagi ular. Citra kedua hewan itu cukup kelam di mata saya.

Akhirnya saya menjawab permintaannya dengan kalimat, "Sebenernya aku mau singa, tapi karena terbatas aku pilih cheetah aja deh", yang dijawab dengan "Waw... Oke tuh!!". Menurut saya itu respon yang sangat baik, untuk jawaban dari pertanyaan yang saya sendiri tak tau apa fungsinya. Setelah saya tanya-tanyai, nona muda itu menyampaikan sebab musabab ia menanyakan hal itu pada saya adalah karena ia sedang mencari inspirasi untuk objek gambarnya. Pernyataannya itu adalah pelatuk yang menembakkan efek 'ember' muncul dari mulut saya. Saya pun berkoar tentang kegiatan saya yang sama sekali tidak menyentuh catatan, textbook, maupun slide presentasi yang disampaikan dosen di kelas tadi. Padahal delaman minggu ke depan anatomi dan histologi menanti untuk disambangi. Dengan jujur dan senang hati saya berkata bahwa waktu saya malah dihabiskan untuk blogwalking, menjelajahi blog-blog milik anggota keluarga besar saya di asrama yang berhasil membuat saya menuliskan suatu catatan penuh rasa.

Ia lalu dengan segera mengakhiri perbincangan kami untuk membuka blog saya dan membaca catatan kecil (postingan sebelum ini) milik saya itu, kemudian melanjutkan percakapan yang kami lakukan melalui fasilitas chat Facebook. 

"Post yang paling baru ngomongin siapa tuh???", tanyanya.
"Itu tentang sekelompok orang yang aku kagumi sejak SMA dulu."
"Ngeliat kamu kyak gitu, aku juga pengen nulis jadinya. Tapi aku gak bakat. Hehe. Bakatnya ngegambar."
"Hehehe. Yaudah, niat nulisnya disalutin ke gambar aja, kayak yang biasanya kamu kerjain. Yang penting itu hatinya dulu, baru bida jadi karya yang bagus, apa pun bentuknya. Aku kok jadi bijak ya malam ini? Hahaha."
"Kadang ada sesuatu yang lebih baik dikiaskan dalam kata, kadang gambar, terkadang pula dalam animasi film pendek. Aku gak punya bakat mengembangkan kerangka pikiran kayak kamu, karena itu aku cuma bisa ngegambar, nggak nulis."
"Hm.. Dicoba aja sedikit-sedikit. Imajinasi kamu kan menurut aku berkembang juga, dari gambar itu pasti ada lah yang bisa diceritain, walaupun simpel, inti dari gambar itu pasti bisa jadi paragraf panjang kalo dijadiin tulisan."
"Yaudah kalo gitu, aku gambar, trus kamu yang bikin ceritanya. And vice versa!"
"Kedengerannya bagus. Haha. Nanti gantian, aku nulis, kamu yang ngegambar ilustrasinya."

Demikianlah akhir dari pembicaraan tidak jelas kami malam ini. Entah bisa jadi kenyataan ataupun tidak, semuanya urusan belakangan. Niat baik meskipun tak sempat terlaksana pun masih memperoleh pahala meskipun tak sebanyak jika ia dilaksanakan, kata suatu hadist. Saya percaya kami bisa menjadi lebih baik nantinya. Dan selalu percaya bahwa semua orang menjadi unik dan bermakna dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya, begitu pula kami. Tuhan pati sudah menggariskan satu atau lebih hal besar untuk kami hadapi dan kami dapati suatu hari nanti. Aku sungguh percaya :)

Mereka Semua dan Refleksi Diri

Ya, ini cerita tentang kekaguman seorang saya kepada orang-orang yang menganggap diri mereka istimewa. Bukan, tulisan ini tertulis bukan karena saya iri pada mereka. Sungguh, jangan berpikiran seperti itu.

Saya mengagumi mereka, semuanya, satu per satu bagian mereka. Saya mengagumi mereka karena mereka sungguh mampu bertindak selaku kakak yang hebat maupun sebagai adik yang lembut dan penurut. Mereka berbakat, atau jika pun mungkin mereka ternyata tak punya bakat, mereka sungguh pejuang yang hebat. Saya sungguh percaya itu. Mereka mampu menggoncang dunia dengan kemampuan mereka, kecerdasan mereka, kepribadian mereka, serta kepiawaian mereka mengolah kata secara lisan atau tulisan. Tak salah jika mereka menjadi sedemikian istimewa.

Mereka semua sama walau berbeda. Tekad baja selalu mereka bawa kemana pun mereka melangkah. Kepercayaan diri mereka tak perlu diragukan lagi. Itulah yang mampu membuat bintang mereka menyala terang, membawa cahaya dalam kehidupan mereka yang tak mengenal karang. Tak ada yang mampu menghentikan langkah mereka. Mereka percaya diri, optimis, dan pantang menyerah. Mereka mafhum bahwa semua pasti ada sisi positifnya. Kegagalan di suatu tempat berarti terbukanya jalan ke tempat lain, tak pernah ada jalan buntu dalam kamus mereka. Yang perlu adalah berusaha lebih keras melawan segala tantangan yang terhampar di sepanjang perjalanan.

Saya pernah dekat dengan satu dari mereka. Orang itu sungguh pernah menjadi panutan saya selama sekian tahun lamanya, hingga kini pun masih. Tapi saya tahu, saya terlalu rendah diri. Ternyata penyakit yang saya kira sudah berhasil saya enyahkan itu masih menyisakan akarnya untuk bercokol di suatu sudut tak terjamah dalam hati saya. Saya masih saja merasa bahwa saya masih belum cukup istimewa untuk mampu bersanding, melangkah bersama mereka. Saya belum mampu meninggikan kepercayaan diri saya, mungkin inilah salah satu faktor yang membuat saya belum istimewa. Seorang yang istimewa tak akan pernah merendahkan dirinya sendiri.

Saya sungguh paham, saya harus berubah. Saya butuh suntikan. Saya butuh pecutan untuk mampu sedikit demi sedikit merangkak maju. Saya merindukan saat-saat dimana bintang saya kembali bersinar terang. Saya butuh tempat dan waktu untuk itu. Dan Tuhan dengan kuasaNya telah memberikan itu pada saya, tinggal seperti apa saya menyikapinya. Saya akan berusaha memanfaatkan nikmatNya dengan sebaik-baik kemampuan saya.

Hidup ini pilihan, ujar mereka. Hidup hanya akan berjalan sesuai apa yang kita pilih. Tuhan menetapkan akhir, tapi manusialah yang memilih jalan mereka. Tak ada yang mampu merubah nasib suatu kaum jika bukan kaum itu sendiri, sebagaimana tertulis dalam Al-Kalam. Jadi berjalanlah, perhitungkan langkahmu sebaik-baiknya, lalu percayakan semua pada Tuhan. Maka tuhan akan selalu menunjukkan yang terbaik bagimu. Walau terkadang, yang terbaik menurut Tuhan belum tentu sama dengan yang kita inginkan. Percayalah, Tuhan akan selalu menyayangi hamba-Nya, bahkan meskipun mereka lupa padaNya. Gantungkanlah semua do'a dan harapan hanya padaNya, maka Ia juga akan mendengar do'amu dan akan menjawabnya dengan tiga pilihan jawaban : 'ya', 'tidak', atau 'nanti'. Maka, bertawakkallah!

BirthdaySurprise 2


*ini tulisan lama yang baru sempat saya post kemari*

25 November, sohibku terlahir delapan belas tahun yang lalu. Kami adalah sahabat dekat sejak hitunglah semester keempat di sekolah menengah atas. Yah, meskipun tiga semester sebelumnya kami  berada di kelas yang sama, keadaannya berbeda. Kedekatan kami semakin intens sejak mendekati ujian, cerita demi cerita mengalir begitu saja, sengaja maupun tanpa sengaja. Kami seperti dua orang yang awalnya sama sekali tidak saling mengenal, yang tiba-tiba menjadi tong sampah masing-masing hanya karena sebuah sepeda onthel. Aku dan dia duduk bersama di satu sepeda, menelusuri jalan dari sekolah ke asrama, karena suatu dan lain hal.
Cukup prolognya, kembali ke BirthdaySurprise. Hari ini, 25 November, seperti yang kujelaskan diatas, adalah ulang tahunnya yang kedelapan belas. Seperti sebelumnya, sejak berhari-hari yang lalu tentunya kami telah berencana untuk membuat rencana demi memberikan kejutan kecil untuknya. Tapi apalah daya, rencana hanya akan menjadi rencana jika tak pernah disinggung lagi. Pada akhirnya kami sama sekali belum merencanakan apa pun hingga tadi siang Ekki menyinggung dengan kalimat “Hari ini George ultah, kasih apa niih?”. Itu pertanyaan yang sangat ‘dalem’ sobat. Aku memang ingat, dari semalam sepulang Makrab sekitar pukul 23.47, setelah aku menyelesaikan semua ritual sebelum tidurku aku sudah berencana mengirimkan pesan singkat untuknya. Dan rencana tetaplah rencana. Aku terlelap sebelum sempat mengetikkan apa-apa.
Dan supernya lagi, hari ini Abang tidak standby dirumah. Ia mengikuti outbond sejak pagi hingga sore. Di dalam kalimat diatas terkandung maksud, “Aku ga mungkin ke kosan George kalo ga sama Abang, sementara Ekki boncengan ama Lidya, atau sebaliknya Lidya juga ga mungkin ikutan kalo aku ama Ekki. Akan tetap ada yang dikorbankan”. Akhirnya dengan bermodal nekat, aku menjanjukan diri untuk membujuk Abngang supaya bersedia menemaniku membeli kue setelah ia mengikuti outbond. Dan voilla, (tentu saja) ia setuju!
Sore tadi sekitar jam setengah lima, Abang langsung menyuruhku bersiap-siap. Sama sekali tanpa sempat memasukkan motornya kedalam pagar kosanku, kami langsung ‘cabut’ ke bakery. Hanya ada dua jenis kue disana yang ukuran dan harganya sesuai dengan kantong kami. Keduanya berdiameter sekitar 20 cm, bedanya satu berlapis krim coklat dan yang lain krim stoberi yang tentu saja berwarna merah jambu. Ngejek banget kalo kami memberikan kue pink itu pada George. Hahaha.
Begitulah awal mula perjalanan BirthdaySurprise hari ini. Cerita ini berlanjut malam harinya, ketika semua rencana utama dimulai. Ba’da Maghrib kami berempat langsung jalan ke kosan George. Manis bukan? Cerita sebelumnya kami mengatur cerita agar kami bisa mengucapkan selamat ulang tahun pada Ekki yang baru bangun tidur. Kali ini kami berencana mengucapkannya pada George yang tidak tahu apa-apa dengan pengorbanan kami jauh-jauh dari Madang ke Bukit, demi dia J
Tapi semua berubah sejak Negara Api menyerang! Tak lama setelah kami memarkir motor di sepan kosannya, ketika aku dan Lidya turun dari motor dan brsembunyi di balik pagar untuk membuka kotak kue dan memasang lilin tiba-tiba George keluar dari dalam kosan bersama dua temannya. Ini kejutan ulang tahun terkonyol yang pernah kusaksikan seumur hidup, dengan aku sebagai tokohnya. Rusak semua rencana kami karena sang tokoh utama, George, dengan wajah tanpa dosa muncul dari dalam (it was one of the awkward moment tonight). Selanjutnya George meminta kedua temannya pergi duluan dan menemani kami. Lucunya lagi, George memasang lilin untuk kue ulang tahunnya sendiri! Sudahlah, salahnya sendiri tiba-tiba muncul sebelum dipanggil K
Okesip, sekarang kuenya siap. Tapi apalah artinya sebuah kejutan tanpa orang yang akan diberi. Akhirnya kami memaksa George masuk kembali ke kamarnya lalu berpura-pura tidak tahu apa-apa  (another awkward moment). Setelah itu kami berempat berpura-pura mengendap-endap lalu secara tiba-tiba menyanyikan lagu Happy Birthday dalam bahasa Korea, Negara kesukaan pujaannya. Seketika kami berlima larut dalam tawa geli melihat ekspresi ga banget George yang pura-pura syok. Malam ini sangat membekas, setidaknya untukku.
Lilin ditiup, api mati, aku langsung menyambar ceri pertama. Abang berikutnya, dst. aku tidak terlalu memperhatikan karena asyik memasukkan krim yang dioleskan di sekujur kue kedalam mulutktu, yang kuingat Lidya memakan ceri terakhir sebelum kami berfoto dengan kue yang gersang tanpa merah-merah lagi. Hahaha. Suapan kue pertama ditujukan pada pujaannya, cinta sebelah tangannya, diabadikan dalam foto George menyuapi angin kosong. Hahaha. Kasihan. Suapan kedua jatuh pada… aku! Katanya itu untuk teman curhatnya. Manis sekali, tentu saja karena itu aku. Ketika ia menyuapiku, tentu saja aku mau difoto, Lidya bergerak dan ternyata hasilnya tidak pas sementara kue sudah masuk dalam mulutku. Maaf, aku sedang beruntung. Haha. Hal ini membuatku dapat potongan selanjutnya, lagi. Suapan ketiga jatuh kemulutku lagi, yummy. Untungnya hasil foto Lidya bagus, kalau tidak, aku (dengan senang hati) akan menghabiskan sepotong besar kue itu. Hahahaha. Potongan-potongan lainnya satu per satu masuk kedalam perut kami berlima, melalui mulut tentu saja.
Kue kali ini terasa lebih enak disbanding kue sebelumnya, padahal keduanya kami beli di bakery yang sama. Mungkin karena ketika malam hari kami sangat lapar dan di pagi hari mulut kami yang belum sikat gigi itu belum siap menerima potongan kue yan terlampau manis. Ah, siapa peduli. Yang penting makan! Sisa malam itu kami lanjutkan dengan bernostalgia hingga jam tangan sudah hampir mengarah ke jam sembilan.
By the way, selamat ulang tahun sobat! Semoga semua semoga yang terucap hari ini tak hanya sekadar menjadi semoga. Aamiin… You’re one of a kind, Bro. satu dari sekian orang yang beruntung bisa ditempatkan dalam lingkaran sahabatku J

Sudah, begitu saja. (Bag. I)


Dia masih saja bercerita tentang Laras, selalu Laras. Seakan di dunia ini hanya Laras yang tampak di matanya tiap ia menatap. Laras yang selalu acuh padanya. Laras yang bahkan tak pernah tampak menggubrisnya. Dia tak pernah peduli pada apapun yang telah beribu bahkan berjuta kali kukatakan. Lepaskan Laras. Dua kata itu hanya dianggap angin lalu. Seandainya kalimat itu masuk ke telinga kanan lalu keluar di telinga kiri, itu masih lebih baik daripada kenyataan saat ini. Setidaknya sempat lewat sebentar dalam otaknya meskipun mungkin tak akan di proses. Namun, dunia bukan dunia jika hanya memberikan apa yang kita harapkan. Kalimat itu hanya sekadar mencoba masuk ke dalam telinganya, lalu terpantul kembali. Tanpa pernah masuk ke bagian temporal dalam serebrum-nya.
Laras adalah kiblatnya. Laras yang menghidupkan jiwanya, Laras pula yang mematikannya. Sungguh tak ada yang bisa menerka arah pikiran lelaki itu. Sikap acuh Laras tak pernah dianggapnya sebagai penolakan, malah dijadikannya pijakan untuk maju. Ini tantangan, katanya.
Mereka bukanlah sahabat karib sejak lama. Mereka hanya sekadar kenal, lalu hatinya yang coba mengenal malah terpental. Membal. Tak mampu menembus dinding pembatas yang dipasang Laras hanya untuknya yang datang pada waktu dan ruang yang tidak tepat. Tidak pernah tepat.
Rani tahu Laras menyimpan rasa yang sama padanya. Ia tahu itu. Mungkin Laras hanya menunggu waktu dan ruang yang tepat untuk semuanya. Untuk hatinya.
Setiap ada yang bertanya, apa yang membuatnya begitu menggilai Laras. Lidahnya terasa kelu, dia pun tak tahu. Yang ia tahu hanyalah ia menyukai Laras. Sudah, begitu saja. Sesederhana itulah cinta menurutnya.
Semakin kuat ia menjauh, energi radiasi yang dipancarkan Laras malah terasa semakin kuat. Membuatnya terikat, erat. Laras telah merampas hidupnya. Segala cara telah diusahakannya, hanya demi menjauhi Laras, membuang Laras-Laras yang terus saja berkelebat di hatinya, mengacaukan fungsi otaknya.
Studinya kacau, sesuatu yang dari dulu diidamkannya dengan suka rela dilepaskan. Hanya untuk pergi dari hidup Laras. Sebenarnya bukan. Bukan pergi dari hidup Laras, melainkan menjaga hatinya agar tak terlampau jauh pergi meninggalkan logikanya. Hidup dalam dunia empat dimensi memang menyakitkan. Membuat dunia yang sesungguhnya sederhana terasa rumit dan irrasional. Laras dengan begitu mudah membuat dunianya indah dan mencekiknya ketika lengah. Laras adalah tokoh protagonis sekaligus antagonis dalam skenario hidupnya.

******

Tio masuk dengan menenteng gitar kebanggaannya. Pada pelajaran kesenian, ia akan menunjukkan sesuatu pada dunia dan mungkin pada Laras. Di bangku kedua dari depan, mata Rani dan Anggra mengikuti langkah Tio yang dramatis ketika maju ke depan kelas. Mereka sudah mampu menebak hal apa yang akan terjadi. Seperti biasanya Tio berubah menjadi gitaris dadakan dan dengan ringan mengalunkan melodi akustik, nada-nada ritmis yang manis.

Cube dulu ku mada, kalo ku renyek kek ka
Cube dulu ka mada, ka renyek kek ku
Ngape kite dak sua, nek ngumong kearah tu
Ngape kite bedue malu-malu

Baru kini ku tau dari kawan akrab ka
Rupe e ka agik galek nanyak ku
Baru kini ka tau, dari kawan akrab ka
Ku galek nanya ape kabar ka

Agik ku simpen buku, ade tulis tangan ka
Agik galek ku bace waktu ku rindu
Agik ku simpen buku, ade tulis tangan ka
Waktu kite agik sekolah dulu

Kini kite betemu
Tapi ka lah punya jie
Kini kite betemu
Ku lah punye ge
(Nyesel, Klaki Band)
Suara Tio mengalir merdu memancarkan romantisme cinta tersembunyi pada semua gadis di kelas ini, kecuali Laras. Ia yang duduk di bangku paling depan bahkan sama sekali tidak terlihat tertarik memalingkan beberapa derajat kepalanya demi menyaksikan konser tunggal Tio. Rani tahu pasti Laras menyimpan sesuatu dalam hatinya. Rani tahu Laras menyadari tingkah Tio yang sesekali mencuri pandang sambil tersenyum di tengah lagu yang tadi dinyanyikannya. Rani tahu dengan jelas bahwa Laras hanya berpura-pura tidak tahu karena merasa bersalah pada seseorang di masa lalunya.

******

            16 Desember 2012
“Kamu tahu nggak sih sekuat apa usaha yang sudah aku keluarkan hanya untuk melupakan perempuan itu? Aku sudah berusaha, Ran. Namun, setiap aku bertatap muka dengannya, semua poin yang telah kuraih dalam pencapaian tujuan besarku itu seakan berguguran ke dasar jurang, kembali ke posisi nol. Usahaku sia-sia saja, Ran!”
            Tio terengah-engah, wajahnya merah, menahan segala rasa dengan pasrah. Rani terdiam menatap sahabatnya yang untuk kesekian kali masih terus menyampaikan isi hatinya. Laras adalah candu baginya dan sekarang gadis itu telah membuatnya sakau, batin Rani. Dia masih diam, menunggu Tio selesai, ia tak terbiasa menginterupsi kalimat seseorang, apalagi yang sedang dalam emosi tertingginya. Tio tak pernah main-main dengan perkataannya. Semua yang ia katakan selalu datang dari hatinya, dan kali ini, dari relung tergelap di sana.
            “Ran, aku lelah. Aku menyesal menyukai dia. Entah kenapa perempuan itu sulit sekali aku lupakan. Sekeras apa pun aku berusaha, sekuat apapun aku menjauh, dia terus muncul, Ran. Ketika aku sedang tidak siap, bayangnya malah terus menerus menari di depan mataku, bukan hanya di benakku. Aku mulai bosan dengan perasaan ini, tapi aku belum mampu melepasnya. Aku hampir putus asa.”
            Tatapannya yang tadi berapi-api sekarang berubah. Sayu. Sendu. Matanya tak lagi memancarkan semangat yang selalu muncul dari dirinya setiap kali bercerita tentang Laras. Sekarang ia butuh suntikan endorfin yang ia tahu bisa datang dari lidah Rani.
            “Sudahlah Yo, kamu itu normal kok. Perasaanmu itu memang akan bisa kau bohongi, tapi aku tahu kamu selalu bisa jadi orang optimis. Aku percaya kamu mampu merubah perasaan yang selama ini kau seret ke kutub negatif itu menjadi energi positif yang malah membuatmu semakin berani menganggap semuanya hanya tantangan seperti dulu. Tuhan pasti punya maksudNya sendiri dengan menakdirkan dirimu terjebak dalam kisah seperti ini. Akan selalu ada pelajaran dalam setiap ujianNya, termasuk pengalaman hatimu ini.”
           
*****

(cinta mereka masih ada...)

saya dan ibu gado-gado

di sebuah warung

saya : bu, pesen gado-gadonya satu
ibu : iya, pedes ngga?
saya : ga usah, sedeng aja
ibu : oke nak (lalu beliau bekerja, tanpa sempat saya lihat racikannya)

sampai dirumah

saya : anjrit, ini mah pedes banget bu -_-

malamnya

saya : Ibu gado-gadoku, sayang. Ibu sudah berhasil membuat saya menderita gejala diare malam ini.Terimakasih banyak, Bu. Akhirnya saya berhasil :')

Senin, 03 Desember 2012

Setting Tempat

Dalam bulan ini PlotPoint mengadakan beberapa kompetisi menulis yang mengharuskan saya yang terbiasa mengalir begitu saja dalam cerita untuk menitikberatkan pada setting tempat, lokasi pengambilan cerita. Saya adalah orang yang pada dasarnya tidak pernah mau bersusah-susah menghapalkan tempat, jalan, dan sebagainya. Saya biasanya fokus pada suasana dan deskripsi lokasi, bukan lokasi itu sendiri. Kompetisi-kompetisi ini merupakan salah satu tantangan terberat bagi saya, karena untuk meloloskan naskah  mau tidak mau saya harus mampu menekankan setting tempat dalam cerita saya.

Untuk Tulis Nusantara, mungkin saya akan memasukkan setting Pantai Matras atau Pemali, karena dalam event ini tidak membatasi tempat seperti apa yang bisa dijadikan objek cerita.Sementara itu, saya masih belum menemukan kota yang pantas saya ceritakan untuk Cerita Cinta Kota. Sok sekali ya kelihatannya. Sungguh, saya tidak bermaksud begitu. Kalimat itu tertuang karena saya bahkan belum pernah benar-benar tinggal dalam suatu kota, kecil maupun besar, yang lokasi-lokasinya sampai begitu membekas dalam ingatan saya. Hal inilah yang kurang lebih membatasi ruang gerak saya dalam menceritakan suatu tempat.

Yah, begitulah rencana singkat saya. Doakan langkah pembuatan plot cerita saya yaa... Semoga pembuatan plot cerita maupun ujian Blok 3 dan 4 saya bisa berjalan dengan baik. Aamiin... O:)

Sabtu, 01 Desember 2012

masa bodoh memang bodoh

hapus ia dari benak
hapus hapus
ia yang semuanya omong kosong
masa bodoh dibuali terus

lalalala
masa bodoh memang bodoh
percayaku terlalu murah

manis manis mulutnya
indah indah wajahnya
busuk busuk hatinya

bual bual
tipu tipu
semua orang terbuali
semua orang tertipu

lalalala
masa bodoh memang bodoh
aku tak lagi peduli