Jumat, 30 November 2012

sedikit cerita tentang ia


Sepi menggerogoti malamku pelan-pelan. Serpihan kenangan terserak di segala penjuru, memaksaku tersadar. Aku tak akan bisa lupa, tak akan mampu hingga Tuhan dengan kuasaNya merampas ingatan itu dari lipatan cerebrum terdalam. Aku merintih lirih. Aku memang bersalah, sesungguhnya salah. Bukan dia yang dengan kejam merusak hidupku, tapi aku, aku yang bersalah. Aku yang dengan bodohnya membiarkan ia masuk. Ia yang bernama dosa.

Ia yang telah kubiarkan masuk itu sedikit demi sedikit mengoyak akalku.  Mencampakkanku dalam ceruk terdalam. Aku tak akan bisa mengulang masa lalu, segala yang telah terjadi tak dapat dielak lagi.

Ia menari sambil sesekali terbahak kecil bahagia. Aku merintih lirih. Tak mampu menahan tetesan air di sudut mataku. Kenangan akan ia terus menerus membayang dalam gulungan sepi. Tuhan, kumohon ampuni aku, hambaMu. Aku yang belum pernah bisa berhenti. Aku yang terus saja melukis dosa pada kanvas hidupku.

Ampuni aku dan semua janji semuku, Tuhan. Semua tinta hitam ini terus dan terus menetes, satu satu hingga tak mampu lagi kucari celah putih. Ah, aku terlalu memanjakan nafsuku. Terlalu. Aku sadar, Tuhan. Itu semakin membuatku sakit, sangat sakit. Karena aku tahu ia akan terus memaksa masuk dan aku tanpa sadar membiarkannya lolos tanpa perlawanan.

Aku terus menghindar, berlari sekuat tenaga. Tapi selalu ada kalanya aku lemah hingga ia dengan mudahnya menyalip, mencegat jalanku, melilitku. Lagi, lagi, dan lagi.

Amunisiku, tinta putihku, amalanku. Mungkin aku kurang banyak menuangkannya, hingga hitam yang terhampar belum mampu kubersihkan. Mungkin pula Engkau yang memerintahkanku belajar dari pengalamanku, menghapus yang hitam sedikit-sedikit.

Engkaulah Sang Maha. Engkaulah yang Maha Menerima Taubat bagi siapapun yang Kau kehendaki. Kumohon, dengan hanya mengharap keridhoan-Mu, terimalah  taubatku, Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar